Tradisi Masa Taaruf Santri Baru

7,084 kali dibaca

Masa taaruf istilah yang asing bagi saya saat menjadi santri baru. Saat baru mondok dulu, saya juga bertanya-tanya mengapa seorang santri wajib menjalani masa taaruf selama tiga hari. Setelah mengikuti kegiatan masa taaruf, saya menjadi paham bagaimana seorang santri akan cepat beradaptasi setelah menjalani kegiatan ini.

Masa taaruf adalah masa pengenalan santri baru terhadap lingkungan pondok pesantren. Tidak hanya tempat, tapi semuanya akan dikenalkan oleh pengurus atau kiai dan bu nyai serta ustaz dan ustazah.

Advertisements

Kata taaruf diambil dari bahasa Arab yang artinya pengenalan. Jika di sekolah kita mengenal istilah Masa Orientasi Siswa (MOS), maka di pesantren istilahnya adalah Masa Taaruf (MASTA).

Pelaksanaan MASTA biasanya selama tiga hari. Jika di sekolah umum pelaksananya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OISI), di pesantren dikenal dengan nama pengurus pesantren. Banyak hal yang baru saya ketahui setelah masuk di pesantren, terutama mengenai istilah yang ada di pesantren.

Saat itu pengenalan pesantren meliputi perkenalan dengan pengurus, dan santri baru mengikuti materi-materi yang diberikan oleh ustaz dan juga bu nyai. Materinya juga banyak meliputi sejarah pesantren dan juga sejarah nama kamar untuk santri. Peraturan di pesantren, jadwal mengaji, dan kegiatan sehari-hari serta kegiatan rutin yang dilaksanakan di pesantren juga dikenalkan kepada santri baru.

Pesantren yang saya tempati untuk menimba ilmu dulu adalah pesantren putri yang ada di Desa Nglawak, Kertosono. Ini merupakan cabang dari Pesantren Miftahul ‘Ula dan berdiri sendiri dengan nama Al-‘Ainy.

Kegiatan MASTA pada hari pertama, yaitu pembukaan dan perkenalan dengan pengurus atau santri senior yang ada di pesantren. Saya ingat sekali saat itu ada game juga yang membuat saya dihukum menyanyi karena salah memainkan game.

Cukup seru kegiatan seperti ini, meskipun kegiatannya dilakukan hanya di dalam lingkungan pesantren dan tidak keluar area pesantren. Dengan kegiatan ini, santri baru menjadi akrab dan mengenal santri senior. Tidak hanya itu, santri baru juga berkesempatan mengenal satu sama lainnya.

Kegiatan di hari kedua adalah penyampaian materi yang berkaitan dengan sejarah pesantren, tata tertib di pesantren, jadwal mengaji, dan juga wawasan kebangsaan.

Saya juga sedikit terkejut karena saat masuk ke pesantren kita juga dibekali dengan wawasan kebangsaan. Hal itu mengubah pandangan saya mengenai pesantren setelah materi wawasan kebangsaan ini.

Setelah materi ini juga ada materi tentang kepesantrenan dan materi khusus tentang santri. Santri baru juga diberikan materi tentang selawat dan juga ke-NU-an. Hari kedua juga cukup berjalan dengan seru. Para santri baru diperintahkan untuk mencatat apa yang disampaikan oleh nara sumber selama kegiatan materi berlangsung.

Hari terakhir kegiatannya adalah mengelilingi pesantren. Menurut saya, ini semacam tur keliling lingkungan pesantren dengan penjelasan dari pengurus sebagai “guide”-nya. Santri baru diberi pengarahan tentang kehidupan sehari-hari di pesantren dan juga mengenai lingkungan yang harus dijaga kebersihannya. Jadwal berih-bersih dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilakukan di pagi hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00. Selanjutnya adalah pengenalan dengan kamar-kamar santri atau lebih tepatnya alasan di balik nama kamar yang dipilih oleh bu nyai.

Kamar di pesantren saya dulu bernamakan pejuang perempuan islam pada masa Nabi Muhammad SAW, yaitu di antaranya Safanah binti Hatim, Sumayyah binti Khayyat, Syaima’ binti Al-Harist As-Sa’diyah, Nusaibah binti Ka’ab, dan lainnya yang bahkan saya juga belum mengenal nama itu dalam sejarah.

Ternyata nama-nama itu begitu penting dan terkenal di kalangan umat islam. Saya yang baru mengetahui sejarahnya saat itu menjadi kagum dan terharu dengan pengorbanan dan perjuangan muslimah-muslimah itu semasa perang di zaman Nabi.

Setelah meengikuti semua MASTA selama tiga hari, kegiatan yang terakhir adalah penutupan. Ada kegiatan selawatan dan juga pembagian hadiah untuk peserta yang aktif. Sebelum itu pengurus meminta buku catatan santri baru dikumpulkan. Dan ternyata adalah untuk pengcekan siapa yang aktif mencatat dan bertanya saat sesi materi berlangsung. Saya mendapatkan hadiah kala itu karena saya termasuk yang paling penuh buku catatannya.

Masa taaruf mengajarkan saya untuk mengenal sesuatu lebih dalam di awal masa mondok. Bukan hanya menilai dari asumsi semata atau pendapat publik yang bahkan belum tentu benar dan belum saya ketahui kebenarannya. Saya menjadi paham dan mengerti tentang kehidupan pesantren setelah merasakan dan menjalani kehidupan di pesantren, karena pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup ini.

Wallahua’lam Bisshawab.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan