Tolak Badriyah (Bagian 1)

Menjelang pergantian tahun ajaran, beberapa santri baru diantar oleh keluarga masing-masing untuk mondok di pesantren kami. Di daerah kami, ada kebiasaan di mana pengantaran santri mondok dilakukan oleh banyak orang. Satu orang santri diantar tidak saja oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah dan ibu serta saudara kandung, tetapi juga oleh keluarga nenek dan kakek dari ayah ibu masing-masing, ditambah paman-bibi-keponakan baik dari jalur ayah maupun ibu. Kadang-kadang, tetangga dekat rumah pun turut mengantar juga ke pesantren. Sehingga, dalam pengantaran satu santri, ada sekitar 50-an tamu yang turut serta mengantar dan bahkan seringkali lebih banyak dari itu. Meskipun pesantren di tempat kami tidak besar-besar amat, tetapi setiap tahunnya selalu ada saja santri baru yang mendaftar. Jumlah total santri putri paling sekitar 40-an orang dan santri laki-laki sekitar 20-an orang saja.

Baca Juga:   Kiai Noer Iskandar, Perantau yang Membesarkan Pesantren

Hari itu, di hari terakhir pendaftaran santri baru, ketika semua orang sudah begitu lelah melayani tamu-tamu yang mengantarkan santri baru sejak pagi, khususnya santri dapur yang harus selalu cekatan membuatkan minum, kudapan, dan makan berat, terdengar suara salam lagi dari halaman. Puluhan tamu dengan usia beragam datang mengantarkan salah satu kerabat mereka yang ingin mulai mondok; seorang perempuan kecil yang tampak sedikit ganjil bagi kami. Perempuan itu baru berusia sekitar 12 tahun. Wajahnya lebar berbentuk nyaris kotak, matanya bulat besar, hidungnya pesek melesak ke dalam. Satu hal yang membuat kami sedikit tersihir dengan wajahnya adalah senyum yang tidak pernah meninggalkan sepasang bibirnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Keluarga kami menyambut kedatangan santri baru yang mendaftar di pengujung hari terakhir pendaftaran itu dengan senang hati. Mbah dan ummi asyik mengobrol dengan para tamu yang mengantarkan santri tersebut, sementara saya lebih sering bolak-balik ke dapur untuk memastikan jumlah cangkir teh sudah sesuai dengan jumlah tamu yang hadir. Setelah mengobrol, menikmati kudapan, dan makan, para tamu itu berpamitan sambil memasrahkan si santri baru. Begitu semua tamu berpamitan, sayup-sayup, saya menangkap suara mbah yang ditujukan pada pengurus pondok putri untuk memperlakukan santri ini secara khusus, karena “dia agak spesial” begitu tutur beliau.

Tinggalkan Balasan