Terputusnya Masjid dari Literasi

801 kali dibaca

Di pinggir aula salatan, atau di sudut dekat pengimanan, banyak masjid yang menyediakan Al-Qur’an. Ada juga sebagian masjid yang memiliki etalase kitab suci. Bila beruntung, kadang tersedia juga beberapa kitab hadist, tafsir, dan buku-buku agama. Setiap selesai solat, khususnya solat yang berada pada jam produktif, ada sebagian orang yang tekun membaca kitab suci di aula.

Potret tersebut mudah didapati di banyak masjid, khususnya di wilayah urban, dan sebagian kecil di wilayah rural. Masjid menjadi rutinitas yang sedemikian formal. Bila di luar waktu salat, masjid cenderung sepi. Kecuali masjid-masjid yang berada di pinggir jalan lintas kota, atau masjid-masjid kampung yang terhubung dengan madrasah diniyyah.

Advertisements

Namun dengan jumlahnya yang sedemikian banyak, dan distribusinya yang sedemikian luas, masjid pada dasarnya dapat dioptimalkan lebih dari sebatas tempat singgah ibadah atau tempat berburu pahala. Masjid pada dasarnya adalah tempat pencerahan yang lebih dari sekadar pencerahan religius. Atau lebih tepatnya, tempat pegulatan ilmu dan tempat orang merenungkan zaman.

Fungsi tersebut pernah bersemarak ratusan tahun silam dengan beberapa peninggalan yang kini kita kenal dengan Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Zaitunah di Tunisia, dan pusat keilmuan lain yang tersebar di semenanjung Arab-Mediterania. Begitu juga di Indonesia. Banyak pesantren tua yang kita kenal, mulanya adalah sebuah surau.

Masjid bagi masyarakat feodal merupakan tempat prestis. Eksperimen pemikiran, kajian fikih, telaah fisika, dan debat ilmiah adalah satu paket dengam imam beserta jajaran di bawahnya. Secara institusional, mereka mendapat dukungan, baik finansial ataupun keamanan, dari raja. Kisah ulama yang menjadi buron kerajaan karena pemikirannya, adalah soal hubungan relasi kuasa dengan ilmu pengetahuan. Masih ada kaitannya dengan pembahasannya ini, tapi lain cerita.

Istilah-istilah seperti cleric, ulama, scientist, (terlepas dari asal muasalnya dari Barat atau Timur) semuanya merujuk pada satu kesamaan, yakni kaum ‘literati’, atau mereka-mereka yang akrab dengan kertas, baca-tulis, dan perenungan. Aktivitas ini semua terjadi di selasar masjid, atau jika bukan, maka di balairung istana. Masjid adalah tempat para ‘nerd’, pecinta ilmu.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan