Tasawuf Underground: Pesantren Anak Punk

Hari ini, Kamis, 29 April 2021, di sebuah chanel TV swasta diunggah cerita sebuah pesantren anak punk yang berdomisili di Kota Tangerang Selatan, Banten. Sebuah pesantren yang tidak seperti bangunan pesantren biasanya, karena hanya sebuah ruko yang dijadikan tempat membangun diri untuk memetakan “jalan pulang”. Demikian istilah yang dipakai oleh pimpinan pesantren ini, Ustaz Halim Ambiya, di Kompleks Ruko Ciputat, Blok C nomor 27, Jalan RE Martadinata, Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (24/4/2021).

Itulah Pesantren Tasawuf Underground, “pesantren anak-anak punk” yang diikhtiarkan untuk membangun jiwa anak-anak “terbuang” dengan mengajarkan tentang tasawuf; bagaimana mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apa pun. Bahkan seorang anak punk yang hidup di jalanan dengan pakaian kumal dan badan penuh lukisan tato, pun mereka punya hak untuk mengenal Tuhannya. Berbekal keprihatinan, Ustaz Halim Ambiya berusaha untuk membawa anak-anak punk kepada kemandirian di samping terus berupaya bagaimana lebih dekat kepada Tuhan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Karena ketebatasan dana, awalnya Pesantren Tasawuf Underground menempati kolong jembatan. Di bawah deru berbagai kendaraan dan klakson mobil yang berseleweran, Ustaz Halim Ambiya mengajarkan anak-anak punk dasar-dasar keislaman, karena mayoritas anak punk tersebut adalah muslim. Namun lebih dari itu, bukan hanya mengajarkan tasawuf, tetapi hingga saat ini di pesantren nyentrik ini juga diajarkan cara berwiraswasta. Dibekali dengan berbagai keterampilan seperti sablon, laundri, keterampilan infografis, dan lain sebagainya.

Baca Juga:   Memaknai Tahun Baru Hijriah

“Selain mengajarkan pendidikan agama Islam, kita juga membuka peluang mereka tentang pemberdayaan ekonomi dan sosial dengan pelatihan-pelatihan. Dengan pelatihan desain grafis, kita ajarkan corel draw, photoshop, bisnis online, bikin pembukuan, pelatihan sablon. Yang tadinya menato tubuhnya, sekarang dia belajar corel draw dan buka sablon, terus juga ada yang lainnya,” begitu Ustaz Halim sebagai penggagas pesantren ini memaparkan dalam sebuah kesempatan.

Tinggalkan Balasan