duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Tanda Mata untuk Jingga

Jika senja telah tiba, gadis berparas ayu itu pasti sudah berada di balkon kamarnya yang memang menghadap ke ufuk barat. Diamatinya perlahan cahaya mentari yang mulai tenggelam dalam senja. Walaupun ia tidak bisa melihat secara langsung pancaran emas sang surya, tetapi ia bisa merasakan kehangatannya seperti seorang ibu yang mendekap anaknya.

Baca Juga:   Dan, Pembunuh Demokrasi adalah…

Ya, Jingga memang lain dari gadis-gadis belia seusianya. Ia mulai berkurang penglihatannya sejak kecelakaan beberapa bulan sebelumnya. Buram sekali penglihatannya. Hampir tak bisa melihat cahaya; apalagi warna.
Tragedi yang menimpa Jingga dan sopir pribadinya saat itu sebenarnya sudah ingin ia lupakan dan melemparnya jauh-jauh. Tetapi, nyatanya bayangan itu selalu muncul di benaknya. Jingga selalu mencoba tegar melalui jalan hidupnya walaupun ia merasa tanpa dukungan penuh dari orang-orang tercinta. Kini ia lebih banyak menyendiri di kamarnya sembari menikmati senja.
“Tok-tok-tok!” terdengar suara pintu kamar Jingga ada yang mengetuk.

Advertisements
Cak Tarno

“Non, ini makan sorenya sudah Mbok bawakan. Cepat dimakan ya nanti keburu dingin tidak enak,” suara Mbok Minah membuyarkan lamunannya.

Baca Juga:   Mat Rim

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan