duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Tamu Tengah Malam: Tradisi Silaturrahmi Santri

642 kali dibaca

Waktu sudah menunjukkan hampir jam 00.00 dini hari. Telepon istri saya berdering. Ternyata dari Gus Muwafiq. “Gimana dik, jadi ke rumah?” demikian istri saya bertanya kepada Gus Muwafiq yang ada di ujung telepon.

Sore itu kami memang bermaksud silaturrahmi ke rumahnya, karena kebetulan kami sedang berada di Yogyakarta. Tapi, dia bilang lagi sibuk. Nanti dikabari setelah selesai acara. Kami memahami kesibukannya, sehingga menunggu saja kabar darinya.

Sampai akhirnya dia menelepon istri dan bilang, “Biar aku saja yang sowan ke tempat sampean Mpok (demikian dia biasa panggil istri saya), supaya bisa ngobrol lebih santai. Kalau di rumahku kita tak bisa pisuh-an karena banyak tamu.”

Semula, saya mengira ini pernyataan basa-basi yunior kepada senior. Mengingat kesibukannya yang luar biasa, mau menolak tidak enak, maka dia bilang saja mau datang ke rumah. Saya sendiri sudah merasa terhormat dengan jawaban seperti itu.

Kami sudah melupakan janji yang kami anggap basa-basi tersebut. Tapi menjenlang jam 00.00 dini hari, setelah ada telepon masuk, istri mengarahkan jalan menuju rumah, tiba-tiba masuk mobil putih di halaman rumah tempat kami menginap (rumah kakak di dekat Pesantren Pandanaran di Jalan Kaliurang). Kami terkejut setelah tahu penumpang yang turun dari mobil tersebut: Gus Muwafiq bersama istrinya. Ya, dia hanya datang bersama istrinya. Berdua saja.

Baca Juga:   Musik Nusantara Bikin Bangga Jadi Indonesia

Akhirnya jadilah kami benar-benar ngobrol santai berempat sampai dini hari. Dari soal mengenang nostalgia saat jadi aktifis jalanan, hasil sowan ke para masayikh dan habaib, sampai membahas situasi masyarakat yang mulai kehilangan ruang bahagia kerena direbut oleh para makelar agama.

Dalam perbincangan yang sangat santai dan penuh canda itu, kami saling mengungkapkan pengalaman masing-masing sambil mengungkap masa lalu waktu kami dikejar-kejar aparat karena demonstrasi melawan Orde Baru.

Dalam obrolan, Gus Muwafiq juga bercerita soal suka duka menjadi penceramah yang dianggap menebar bidah dan melakukan kultus saat menjelaskan berbagai trafidisi Islam sebagai sarana mencintai Nabi. Juga, saat dituduh menista Nabi saat menjelaskan sejarah Nabi dengan bahasa dan logika rakyat.

Sementara itu, sebagai pengamen saya bercerita tentang betapa enjoy dan bahagia kumpul dengan anak2 jalanan, para musisi, budayawan dan seniman. Meski ruang kreasi mereka sudah direbut oleh para makelar agama karena selalu diancam dengan “mantra” penista agama yang bisa membuat org celaka dan hancur keriernya, namun mereka selalu memiliki celah untuk  bercanda agar tetap bisa bahagia.

Dari cerita Gus Muwafiq, terbayang betapa sulitnya berbuat kebaikan dan menebar kebahagiaan di tengah masyarakat yang sensitif karena belenggu curiga dan monopoli kebenaran.

Suasana malam itu benar-benar mengingatkan kami pada tradisi silaturrahmi yang dilakukan oleh para kiai sepuh. Mereka selalu memiliki kesempatan dan meluangkan waktu bersilaturrahmi di tengah kesibukan masing-masing. Suasana yang akrab dan dekat untuk berbagi ilmu, mengasah ketajaman batin, dan kepekaan nurani.

Baca Juga:   Keren, Santri Mojokerto Ikut Festival Film Indie

Dalam suasana seperti ini, biasanya para kiai benar-benar dalam keadaan “telanjang soasial”. Artinya, mereka benar-benar melepas seluruh atribut sosial yang penuh privelese yang disematkan oleh masyarakat. Dengan demikian, mereka bisa tertawa lepas dan bebas. Saling ledek dengan penuh suka cita.

Saya pernah melihat dan merasakan kehangatan seperti saat nderek Gus Dur, berkeliling mengetuk pintu rumah kiai saat dini hari untuk bersilaturrahmi. Dan, malam itu saya merasakan seolah kembali pada suasana beberapa puluh tahun silam. Malam itu sudah tidak lagi menjadi penderek kiai, tapi justru menjadi pelaku atas apa yang pernah dilakukan para kiai sepuh.

Demikianlah adab dan akhlak, selalu menjaga silaturrahmi dan takdzim pada senior meski sudah menjadi orang hebat dan terkenal. Terima kasih Dik Kiai Muwafiq yang telah menjaga tradisi silaturrahmi ala santri yang sudah semakin langka. Semoga tetap sabar, ikhlas, dan istiqomah menjalankan amanah membina umat.

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan