duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

SURAT BUAT IBU

83 kali dibaca

SURAT BUAT IBU

Ibu, jika kau rindu anakmu, lupakanlah selalu. Sebab ia cuma akan terus mengganggumu seperti kanak-kanaknya dulu

Aku berada jauh sebab tak ingin hidupmu gaduh. Aku berada jauh bukan sebab tak hendak patuh. Aku berada jauh untuk belajar bisa bersimpuh. Tanpa harus mengaduh. Tanpa harus melengos dan berkata, “Uh!”

Dari suatu jarak, Ibu, sering kau terlihat bagai sepotong sajak. Terbayang bagaimana kau mencak-mencak dengan tangan berkacak ketika sebagai kanak-kanak, kuarak butir-butir nasi yang tak tanak di semak-semak. “Kau bukan anak kuntilanak!”

Dari seribu mimpi, Ibu, sering kau terlihat bagai sebaris puisi. Terbayang bagaimana kau mengajariku menggambar ilusi, berhari-hari, dengan sekaleng susu sekerat roti, dengan buai senyum yang tak pernah basi. “Kau boleh bermimpi, sebab bukan anak memedi!”

Baca Juga:   Saat Ribuan Santri Mulai Unjuk Prestasi

Dari balik sebuah bilik, Ibu, sering kau terlihat bagai sinar terik. Terbayang bagaimana kau mendidik menampik hidup yang tengik, dengan pekik yang tajam menukik, dengan tempik yang membuatku bergidik. “Jangan mendelik, kau bukan anak gundik!”

Dari balik sebuah tirai, Ibu, sering kau terlihat bagai bidadari. Terbayang bagaimana kemudian kau menjadi ilusi, titik tuju mimpi setiap lelaki, dari hidup yang tak terperi, juga hidup yang telah jadi bangkai. “Dasar kau binatang pemimpi!”

Ibu, jika merindukanmu, akan kulupakan selalu. Sebab akulah kanak-kanak abadi itu.

Baca Juga:   Gebyar Santri Menyambut Tahun Baru Hijriah

LALU WAKTU BEKU

Lalu waktu
beku di rerimbunan batu
yang setia menunggu

Setelah dzikir mengalir
hanyut dibawa air
sampai ke kali hilir

Lalu batu
beku di rerimbunan waktu
yang setia merindu

Setelah mantra berdengung
menuruni kaki gunung
sampai halimun menudung

Lalu aku
waktu yang beku
di rerimbunan rindu

Setelah lirih gending
menuruni tebing-tebing
sampai ke dasar hening

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan