Suwuk Kiai, Perjuangan Santri, dan Peristiwa 10 November

800 kali dibaca

Tanggal 10 November menjadi tanggal yang sarat akan makna historis. Terdapat torehan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia. Tepat 10 November 1945, sikap patriotisme dan militansi dari para pejuang mencapai titik kulminasi dari serangkaian perlawanan yang berhasil mengalahkan penjajah dan Sekutu. Namun, kegemilangan tersebut juga harus dibayar mahal dengan banyaknya pejuang yang gugur dalam mempertahankan keutuhan serta kedaulatan negara yang baru saja diperoleh.

Musabab pertempuran 10 November dilatarbelakangi oleh tewasnya Brigadir Jenderal AWS Mallaby sebagai pimpinan pasukan Sekutu. Kabar tersebut menjadi headline dunia internasional dan membuat Sekutu naik pitam. Sekutu segera mengeluarkan ultimatum untuk segera menyerahkan pembunuh Mallaby dan segala persenjataan yang dimiliki.

Advertisements

Alih-alih membuat takut, pejuang Surabaya justru semakin tidak gentar dan pantang mundur untuk melepaskan diri dari jerat kolonialisme dan imperialisme. Berbekal resolusi jihad mempertahankan negara dari penjajah adalah fardu ‘ain itulah yang kemudian melecutkan mental dan psikologis pejuang untuk siap berkorban seluruh jiwa raga demi negara.

Baca juga:   Aku dan Pesantrenku (3): Ibarat Laboratorium Kehidupan

Di balik pertempuran akbar dan tersulit tersebut, realitas kini, masih menyisakan rasa yang disesalkan beberapa pihak. Masih terdapat pihak-pihak yang tereduksi, termarjinalkan dari perbincangan mayoritas masyarakat. Peristiwa 10 November masih dilekatkan sebagai perjuangan tentara nasionalis dan arek-arek Surabaya. Masyarakat umum seolah lupa, ada kontribusi dari pada kaum sarungan yang begitu besar tapi jarang tersorot.

Baca juga:   Redefinisi Senioritas di Pesantren

Dulu, otoritas serta penasihat tertinggi dalam pengambilan sebuah keputusan berada di pundak kiai. Para kiai-lah yang mampu mengkoordinasi dan memobilisasi massa. Meski dikenal dengan kapasitas penguasaan keilmuan agama, tapi para kiai telah paham kapan harus ofensif dan kapan harus defensif. Inilah pada gilirannya, kiai sebagai sendi keagamaan sekaligus kebangsaan yang lihai dalam penerapan manajemen stratejik dan kepemimpinan perang dengan sangat rapi dan terorganisasi.

Ernest Douwes Dekker pernah mengatakan, jika tidak adanya pengaruh dan didikan agama Islam –dalam hal ini kiai–, maka patriotisme bangsa tidak akan sehebat seperti apa yang diperlihatkan masa lampau.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan