Susahnya Belajar Bahasa Sendiri

Berdasar pengalaman pribadi menempuh pendididkan formal selama 12 tahun dari SD sampai SMA, sangat jarang dan sepertinya memang belum pernah saya mendapatkan nilai tugas maupun ujian yang sempurna pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Padahal saat mengerjakan ujian, rasanya soal-soal itu bisa dikerjakan dengan cepat dan tak begitu susah— Bahasa Indonesia ya begitu-begitu saja. Hal ini ternyata tidak hanya terjadi pada saya saja. Banyak teman-teman saya yang bernasib serupa. Bahkan mungkin banyak pelajar di Indonesia yang juga kena “prank” dari mata pelajaran ini.

Keresahan saya tentang pelajaran bahasa Indonesia yang sempat lapuk dimakan waktu ini kembali terusik saat beberapa waktu yang lalu berselancar di jagat time line Twitter. Bermula dari postingan akun seorang akademisi yang berisi tangkapan layar pesan tentang curhatan temannya yang berprofesi sebagai seorang dosen. Sang dosen menceritakan bahwa sebagian besar mahasiswanya lebih memilih mengerjakan tugas dengan menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Bahasa Inggris yang dipakai para mahasiswa itu cukup bagus dan menggunakan tata bahasa yang benar, sementara ketika mahasiswa menulis dalam bahasa Indonesia akan berubah menjadi sangat buruk dan amburadul.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Postingan berisi curhatan ini mendapat tanggapan lebih dari 400 balasan komentar dan dibagikan ulang hingga 1.800 kali. Sebagian besar berisi tanggapan komentar dari para netizen yang berpihak pada kubu mahasiswa, mereka mengamini bahwasanya tidak salah jika para mahasiswa memilih menggunakan bahasa Inggris dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa bahasa Indonesia terlalu ribet dan susah. Faktanya pula referensi keilmuan kita memang masih didominasi oleh buku-buku berbahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Baca Juga:   Banyak Pesantren di Bantul Diisolasi

Salah satu dari sekian banyak tanggapan, balasan komentar paling menarik datang dari seorang ahli bahasa Indonesia. Lewat akun twitternya @ivanlanin, Direktur Utama Narabahasa ini mengungkapkan bahwa hal itu terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah karena ragam formal dan informal bahasa Indonesia sangat besar.

Benarkah? Saya kira juga demikian. Cas-cis-cus setiap hari ketika berdialog menggunakan bahasa Indonesia, tapi ketika dihadapkan dengan soal pilihan ganda dari mata pelajaran ini semua jawaban terlihat benar dan membingungkan. Bila ditarik benang merahnya, tentu ada kaitan erat dengan aturan formal informal berbahasa Indonesia. Mungkin ini yang membuat para mahasiswa itu malas menggunakan bahasa Indonesia untuk mengerjakan tugasnya.

Baca Juga:   Wajah Tuhan dalam Ayat-ayat Kauniyah

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan