Sistem Muhadatsah dan Ta’lim Al-Mufrodat di Pesantren

591 kali dibaca

Salah satu sistem yang berlaku di berbagai pondok pesantren, seperti di Pondok Modern Darussalam Gontor, adalah penerapan Bahasa Arab dan Inggris dalam keseharian. Dalam sistem ini, santri diwajibkan untuk berkomunikasi dengan Bahasa Arab dan Inggris secara bergantian.

Misalnya, dua minggu untuk Bahasa Inggris dan tiga minggu untuk Bahasa Arab. Wujud lain dari penerapan berbahasa dalam keseharian adalah pelajaran di kelas yang keseluruhannya menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Hal tersebut tentu tak luput dari berbagai macam usaha yang diterapkan para kiai untuk membentuk santri yang mampu berbahasa Arab dan Inggris, di antaranya adalah muhadatsah dan ta’lim al-mufrodat yang diadakan setiap pagi setelah tadarus.

Advertisements

Ketika bel dibunyikan setelah salat subuh selesai, misalnya, para santri bergegas kembali ke asrama masing-masing untuk bersiap melakukan tadarus. Para santri duduk dengan rapi di depan asrama untuk melakukan tadarus.

Setelah tadarus, mereka beralih kepada kegiatan ta’lim al-mufrodat atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan pengajaran kosa kata. Setiap pagi, para santri mendapatkan tiga sampai enam kosa kata baru berdasarkan tingkatan atau kelas masing-masing.

Tidak hanya mendapat kosa kata baru, tetapi para santri juga diminta untuk menghafal dan kemudian menyusunnya dalam suatu kalimat. Setiap kosa kata disusun dalam tiga kalimat.

Hal tersebut bertujuan agar para santri tidak hanya menghafal dan mengetahui kosa kata tersebut, melainkan mereka mampu menyusunnya ke dalam kalimat menggunakan ilmu nahu, saraf, dan grammar yang mereka dapatkan di kelas. Ta’lim al-mufrodat ini berlangsung selama tiga puluh menit.

Di malam hari sebelum tidur, para santri juga diwajibkan untuk menghafal kosa kata beserta contoh kalimat dari kosa kata yang mereka pelajari di pagi hari. Dan mereka menyetorkan hafalan kepada pengurus asrama dengan tertib.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan