Setan Suradal

123 kali dibaca

Mereka mengatakan bahwa Wak Amad kencing berdiri di dekat pohon keranji. Padahal Wak Amad tidak mengencingi batang pohon itu, melainkan hanya di sekitarnya. Pohon dengan satu batang besar yang menunduk menyentuh tanah. Siapa yang lewat di jalan itu akan merinding luar biasa. Tidak ada kuburan, tidak ada rumah tua, hanya pohon besar yang berdiri bertahun lamanya.

Wak Amad memang tidak percaya pada kekuatan pohon. Kata dia, pohon tidak jauh beda dengan manusia, sama-sama ciptaan yang Kuasa. Naas, sembilan jam sesudah Wak Amad kencing berdiri, ia tertimpa musibah besar. Saat hendak buang air besar di kakos, Wak Amad tidak bisa mengeluarkan air seni dari saluran kencing. Ia teriak-teriak minta tolong pada Sapeya, istrinya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sapeya bingung berhari-hari, perut Wak Amad semakin membesar. Keseringan pula Wak Amad merintih di atas ranjang yang sering berderik itu. Sapeya duduk sepanjang hari di sisinya, memegangi tangan Wak Amad, menciumi sekali-duakali. Di saat seperti itu, Sapeya merasa menyesal mengapa tidak bisa mempunyai anak sejak mereka muda. Akibatnya, tidak ada yang bisa membantu lebih saat diterjang badai sedih. Setelah Wak Amad tidak bisa bekerja seperti itu, maka satu-satunya jalan pengahasilan tertutup.

“Besok aku akan pergi ke Mak Mar untuk menanyakan penyakitmu.”

“Mak Mar tahu banyak hal tentang pohon Keranji itu.”

Perkataan Sapeya hanya disambung sendiri, Wak Amad sudah tidak bisa berbicara sama sekali. Malah, yang tersisa hanya bulir-bulir air mata di pipi Wak Amad. Seumur-umur Sapeya, itu kali kedua melihat suaminya menangis. Kali pertama, saat Wak Amad berhasil mengucapkan ijab kabul tatkala mereka menikah setelah sebelumnya berlatih setengah bulan lebih.

Sapeya mendatangi Mak Mar, ia menceritakan musabab kemalangan suaminya. Mak Mar memejamkan mata dan membaca beberapa larik mantra yang tidak dimengerti Sapeya. Sampai lima belas menit sepuluh detik, baru Mak Mar membuka mata dengan senyum yang lepas. Seolah-olah hendak mengatakan, bahwa suami Sapeya bisa sembuh secepat mungkin. Tetapi, sangkaan Sapeya salah, Mak Mar mengaku keberatan. Mata Sapeya sembab, terus-terusan memandangi dinding rumah Mak Mar yang terbuat dari triplek tipis-tipis. Deru-deru angin seperti mengalir di dada Sapeya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan