Seperti Beberapa Kejap Saja

589 kali dibaca

Begitu mata terbuka, subhanallah —demikian ucapnya— tergeragap tiada terkira. Tiba-tiba saja ia mendapati hari mulai siang sementara dirinya sedang mengendarai motor di pinggir jalan memboncengkan seseorang yang ia tengok kemudian rupanya bapaknya. Apa yang terjadi—bagaimana bisa seperti ini? Padahal seingatnya beberapa saat tadi hari masih di awal pagi dan dirinyalah yang diboncengkan oleh bapaknya, bukan dengan motor melainkan dengan sepeda—karena baru kelas satu MI ia belum berani bersepeda sendiri ke sekolah yang berada di kampung sebelah kampungnya. Biasanya ia amat menikmati perjalanan ke sekolah sembari matanya menyapu pemandangan alam seperti pegunungan berdiri kokoh di kejauhan; awan-awan putih berkejaran; langit biru luas terbentang tanpa tiang (Siapa yang membentangkan langit tanpa tiang?) atau beragam tanaman yang tumbuh subur di pekarangan depan rumah-rumah warga sepanjang jalan menuju sekolahnya. Akan tetapi, karena semalam bersama bapaknya menghadiri peringatan maulid Kanjeng Nabi Muhammad SAW di masjid kampungnya yang diawali dengan ibu-ibu muslimat membaca kitab al-Barzanji kemudian dilanjutkan pengajian, tidurnya nyaris tengah malam. Maka wajar apabila ia ngliyep —tertidur sebentar— saat di tengah perjalanan tadi. Yang tidak wajar adalah saat ia membuka mata, dan beberapa saat tadi ketika sekilas menengok ke belakang ia mendapati sepertinya ayahnya telah bertambah usia. Subhanallah, tubuhnya pun kini tampak besar, tidak seperti bocah lagi melainkan seorang bujang. Anehnya lagi, ia dapat mengendarai sepeda motor dan rasanya ia memang telah terbiasa melakukannya. Kemudian, sembari mengurangi laju motor, masih digelayuti rasa bingung ia menoleh lalu bertanya pada bapaknya perihal tujuan mereka. Bapaknya menjawab dengan menyebut nama sebuah pesantren —tempat bapaknya ngaji rutinan lima hari sekali sesuai hari pasaran. Masih belum memahami dengan apa yang terjadi dan kendatipun ia merasa ini betul-betul nyata, sempat terlintas anggapan dalam benaknya bahwa ini adalah mimpi. Kemudian, kendatipun ada semacam ketakutan apabila mata terpejam motornya bakal oleng, sembari terus melaju ia memejamkan mata. Sekejap kemudian; begitu mata terbuka, subhanallah —demikian ucapnya— tambah tergeragap tiada terkira. Ia mendapati hari telah sore dan dirinya berada di jok belakang sebuah mobil melaju cukup kencang. Posisi badannya yang bersandar pada pintu mobil menjadikannya mendapati bayang wajahnya di kaca pintu itu. Rambutnya, subhanallah, tampak banyak yang memutih sementara kerutan di wajah menunjukan bahwa ia telah sedemikian tua. Apakah ini mimpi yang lain lagi? Ia tidak mengerti, akan tetapi sepertinya tidak, karena ini tampak begitu nyata. Baginya, kendatipun saat bermimpi sulit membedakan apakah sedang bermimpi atau tidak, gambaran visual —warna-warna—, suasana di alam mimpi berbeda dengan alam nyata. Namun, apabila bukan mimpi, sesungguhnya apa yang sedang ia alami? Ia rada kaget ketika seorang pemuda yang duduk di sampingnya dengan suara lembut menawarinya minum sembari membuka tutup botol air mineral di tangannya. Sembari memandangi wajah pemuda yang sepintas lalu ada segaris kemiripan dengan wajahnya ia menggeleng lalu menanyakan siapa pemuda itu. Setelah tersenyum pemuda itu menyebutkan sebuah nama, dilanjutkan menyatakan bahwa ia adalah cucunya. Subhanallah, demikian benaknya, lantas siapa lelaki yang sedang menyetir itu —anaknya? Sementara mobil terus melaju tanpa ia ketahui bakal ke mana, benaknya terus berusaha mencari tahu sebetulnya apa yang terjadi dengan dirinya, lalu ia berniat memejamkan mata kembali; barangkali nanti saat membuka mata tahu-tahu ia sedang di boncengan sepeda bapaknya yang mengantarkannya ke sekolah atau malah kejadian selanjutnya lebih tidak terduga-duga? Bismillah, demikian ucapnya sembari memejamkan mata. Dan, bismillah, ucapnya sekejap kemudian sembari membuka mata. Begitu mata terbuka, alhamdulillah —demikian ucapnya— mendapati dirinya masih berada di dalam mobil itu, merasakan tubuhnya sedemikian lemah seiring kesadaran menyelusup benaknya bahwa ia sedang sakit dan diantar oleh anak dan cucunya menuju ke rumah sakit. Kemudian, sekilas ia bertanya dalam benaknya, inikah akhir dari hidupnya? Hanya Gusti Allah Ta’ala yang tahu. Betapa terasa cepat waktu dalam hidupnya berlalu, seperti beberapa kejap saja. Kejadian-kejadian puluhan tahun silam seakan-akan baru terjadi pagi atau siang tadi; pagi diantar ayahnya ke sekolah, siang mengantar ayahnya ke tempat ngaji dan sore ini ia diantar anaknya ke rumah sakit. Kendati satu sisi dalam jiwanya berharap semoga Gusti Allah Ta’ala menyembuhkannya —sebagaimana Dia telah berkali-kali menyembuhkannya karena Dia-lah Yang Maha Menyembuhkan— hingga ia dapat melakukan kembali amal-amal baik, satu sisi yang lain berusaha tidak mempersoalkan apabila hampir habis jatah waktu hidupnya. Karena ia meyakini hidup-matinya lillahi rabbil alamin —hanya karena Gusti Allah Ta’ala, Tuhan Semesta Alam. Di samping itu, sebagaimana nasihat seorang ulama yang kerap ia ingat, bukankah hidup adalah peluang untuk berbuat kebaikan sedangkan mati adalah akhir potensi berbuat keburukan? Alhamdulillah, ucapnya kemudian, kendatipun sebagai manusia ia punya banyak kesalahan—keburukan, belakangan ia sering diingatkan kebaikan-kebaikan dalam hidupnya yang menjadikannya merasa nyaman dalam berhubungan dengan-Nya —kian meyakini bahwa Dia Maha Baik— dan ini mudah-mudahan menjadi semacam pertanda bahwa ia rida terhadap apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi padanya —segala ketetapan-Nya.

Baca juga:   Penembak Hari

Kesugihan, 8:50, 28 Oktober 2021.

Advertisements

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan