SEBUAH MEMOAR DI MAKAM GUS DUR

267 kali dibaca

SEBUAH MEMOAR DI MAKAM GUS DUR

tak kutemukan sorak-riuh
seperti gemuruh di istana
hanya ada getar bibir yang
membuat tubuh gemetar

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

di sebuah nisan dan bebunga
kantuk berselamat tinggal
kepada sepasang nanar mata
menciptakan memorabilia

dedoa hanya sampai sayup
di telinga sedang di balik dada
tak ada yang bisa diungkapkan
kata-kata dan dibahasa-isyaratkan

sepasang tengadah tangan,
ucap bibir, dan tunduk kepala
merapal-melangitkan dedoa
yang bisa saja jatuh dan patah

di sini, segala seperti sia-sia:
sesuatu yang akan dihadiahkan
telah jauh hari tercukupi bahkan
mampu meluberi yang kemari

al bashiroh, 2021.

POTRET KESEDIHAN DI TENGAH KOTA

sekali lagi kita masih menjadi
sepasang lengan yang enggan
saling silang dan tolak peluk
saling dekap rapat

tak pernah tercipta desah
antara hirup-embus napas
tak pernah muncul getir-getar
kelenjar di antara kita

kau tahu, dunia semakin entah
segala sedih dibangun sedemikian
megah di tengah kota dan orang-
orang dengan bahagia memotretnya

sialnya kesedihan kita
ada di sana

tambakberas, 2021.

KEMATIAN PADA SEBUAH ANGKA
: frh

pada angka itu akhirnya tiba
kau datang dengan sedikit cemas

kau tak terlalu suka naik gunung
tetapi jalan rumahmu telanjur

menikung bergelombang memangku
nenasib yang kian di ambang kecemasan.

kotamu semakin mati dari mencintai
pun di depan rumahmu kematian

telah menanti dengan menyamar
dan tak diketahui seseorang.

jejalanan telanjur menikung, h
nenasib makin lihai mempermainkan

tetapi kau, sebagaimana jejalanan
tetap harus memiliki lurus jalan

dan tujuan dan pulang.

tambakberas, 2021.

DEBAR AKHIR DESEMBER

pada debar akhir desember
kau kutuk jejak yang membuat
dekat pada jalan menuju getir
januari yang sepi dari memiliki.

angan-angan telanjur jadi beku
desember telah membuat kepal
tanganmu dingin dari ingin—
menggengam erat kekosongan.

pada hitungan ke sekian lorong-
lorong itu bakal tercipta
menarik lelangkahmu menuju
sebuah samar pada mata nanar.

kelak kau saksikan angan
dan ingin berkelindan menempel
pada wajah-wajah letih dan sedih
yang membuatmu trenyuh, ingatlah!

tak ada satu pun dari ucapanmu
bisa membuat segala yang kau lihat
dan kau dengar dari wajah-wajah itu
mewujud. tak ada satu pun!

kau tahu, ucapan—terlebih janji—
lebih suka membohongi!

al bashiroh, 2021.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan