Santri Milenial Berdakwah bil Qalam

Di era informatika, di mana banjir informasi, berita bohong (hoax), dan ujaran kebencian memenuhi linimasa dan lini kehidupan seperti saat ini, sudah saatnya santri angkat pena. Berdakwah dengan pedang pena. Mengguratkan tulisan yang menyejukkan, tulisan yang mengabarkan kebenaran, tulisan yang mendamaikan hati.

Di zaman milenial, di mana dunia nyata dan dunia maya saling berkait-kelindan seperti saat ini, peran santri dalam berdakwah tidak cukup hanya dengan bil lisan. Tapi harus mampu mengambil jalan dakwah bil qalam. Sehingga santri bisa melakukan dakwah di dunia nyata dan dunia maya sekaligus.

Advertisements
Cak Tarno

Untuk bisa mengambil jalan dakwah bil qalam, maka santri harus sadar akan pentingnya budaya literasi. Budaya membaca dan mencatat hasil dari apa yang dibaca dan dipelajari. Memang, sebenarnya budaya literasi bagi para santri di pesantren sudah ada, bahkan melekat pada kehidupan sehari-hari santri.

Baca Juga:   Pesantren dan Relasi Sosialnya

Buktinya di pesantren, santri banyak membaca dan mengkaji kitab-kitab kuning karya para ulama terdahulu. Misalnya, kitab At-Taqrib karya Al-Qodhi Abu Syuja’ bin Husein bin Ahmad Al-Asfahany (kitab fikih yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fikih); kitab Aqidatul Awam karya Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki (kitab dasar akidah Islam); kitab Arba’in Nawawi karya Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi (kitab matan hadis yang meliputi meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak); kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji (kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlak di dunia pesantren, kitab yang wajib dipelajari para santri sebelum mempelajari kitab-kitab yang lainnya), dan masih banyak kitab-kitab yang lainnya.

Baca Juga:   Di Kendal, Seorang Santri Positif Corona

Dan dari banyaknya kitab yang dipelajari para santri di pesantren itu juga menunjukkan bahwa budaya literasi para ulama terdahulu begitu tinggi. Hampir semua ulama besar menulis kitab sesuai bidang masing-masing, mulai dari akidah, akhlak, fikih, tafsir, hadis, tasawuf, sampai tata bahasa Arab (nahu-saraf). Sehingga nama para ulama itu abadi dalam karya tulis mereka.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan