Santri Kebumen Hidupkan Seni “Jamjaneng”

Setelah kalah pamor dengan gerusan budaya pop global, kesenian tradisional Jamjaneng kini mulai dihidupkan kembali oleh masyarakat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Para santri pun diajak aktif menghidupkan kembali kesenian khas Kebumen tersebut.

Rabu (24/6/2020) malam lalu, misalnya, para santri di Pondok Pesantren Alhasani Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, mementaskan kesenian Jamjaneng di lingkungan pondok.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dalam pementasan tersebut, para santri yang tergabung dalam Padepokan Santri Fajim di pondok itu terlihat telah menguasai seni Jamjaneng tersebut. Para santri dengan fasih menyanyikan shalawatan dengan diiringi musik yang dimainkan oleh Grup Jamjaneng Al Hidayah dari desa setempat.

Menurut cerita, kesenian Jamjaneng atau Janeng diciptakan oleh Kiai Zamzani. Kesenian ini berisi paduan syair-syair (syingiran) yang diiringi dengan musik tradisional Jawa. Lagu-lagu syiiran ini terdiri dari shalawat dan syiir dalam bahasa Jawa.

Baca Juga:   Nyi Seppo, Sang Pendidik Perempuan Madura (Mengenal Nyai Siti Maryam)

Janengan diciptakan sebagai media dakwah pada masa awal masuknya Islam di daerah Kebumen erat kaitannya dengan masa awal perkembangan agama Islam. Karena itu, fungsi musik Janeng hampir sama dengan wayang kulit semasa zaman Wali Aongo. Nama Jamjaneng, konon, diambil dari nama penciptanya, Kiai Zamzani. Karena lidah orang Jawa lebih mudah untuk mengucapkan Jamjaneng, sampai sekarang pun musik ini tetap dikenal nama Jamjaneng, atau lebih akrab disebut Janeng atau janengan.

Pencipta kesenian ini, Kiai Zamzani, dipercaya berasal dari daerah Kutowinangun dan diperkirakan hidup pada masa Islam berkembang pesat di Tanah Jawa. Terinspirasi dengan metode dakwah Sunan Kalijaga, Kiai Zamzani pun menciptakan kesenian Jamjaneng. Untuk menciptakan media dakwah dari kesenian, Kiai Zamzani mengumpulkan para seniman guna membuat alat-alat musik.

Baca Juga:   Kiai Nur Hadi, Guru yang (Terus) Hidup

Dibuat dari bahan baku seadanya yang dapat ditemui di daerah sekitar, seperti dari poksor kayu glugu (kayu kelapa) sebagai bahan baku gong, kulit sapi untuk membrannya dan thulingnya terbuat dari bambu. Setelah alat-alat musik jadi, maka dimulailah kesenian Jamjaneng yang ternyata disukai masyarakat setempat. Kesenian ini pernah mencapai kejayaannya, namun kemudian pamornya meredup kalah dengan budaya pop modern.

Tinggalkan Balasan