duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Sanggar Terakhir

Di sanggar teater pinggiran kota yang telah lama terbengkalai suasana tampak sepi. Tak ada lagi riuh penonton menyoraki.

Dulu, di sanggar ini sering diadakan acara dadakan. Biasanya malam minggu. Ada pentas ketoprak, musikalisasi dan pembacaan puisi, atau apa saja untuk sekadar berekspresi bagi yang ingin menunjukkan bakat seninya.

Advertisements
Cak Tarno

Di sekelilingnya ada warung-warung kopi. Dulu, sanggar ini sangat ramai dikunjungi orang. Oleh anak-anak, remaja, atau orang tua, yang ingin sekadar menikmati malam.

Baca Juga:   Hujatan Indah Penggembala Domba

Kini, sanggar itu sepi. Tak lagi ramai. Warung kopi masih ada, namun pengunjungnya tak lebih dari anak kecil dan anak muda yang nebeng wifi, mabar gem onlen, klub sepeda motor amatiran, atau muda-mudi yang ingin mencari gelap-gelapan.

Berkatalah pemilik sanggar kepada anaknya, “Dulu di sini bapak berpentas dengan kawan-kawan bapak. Menyuarakan apa saja yang bapak rasakan. Suara bapak seperti tak bisa berhenti bergema. Tetap membara, walau coba dibungkam. Karenanya, Bapak dan kawan-kawan sanggar dianggap berbahaya, dengan puisi yang terkesan melawan pemerintahan dulu.”

Baca Juga:   Abdullah Cekka

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan