Ramadan dan Penggemblengan Rohani

551 kali dibaca

Sesungguhnya puasa bukan melulu tentang makan dan minum, kulineran. Ada rahasia mendalam di balik diwajibkannya puasa sebulan penuh di bulan Ramadan bagi umat Islam. Rahasia itu yang perlu dicari di dalam bulan yang penuh rahmat, berkat, dan pahala ini.

Inilah bulan tidak pernah dimiliki para nabi terdahulu. Ironisnya, tak semua muslim mampu mengaplikasikan amalan terbaiknya sepanjang bulan suci ini.

Advertisements

Membincang perihal Ramadan sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan, seluruh kitab klasik maupun kontemporer secara detail telah membahasnya, terutama Kitab Ihya Ulum al-Din karya al-Ghazali. Di sana perihal puasa dibahas secara gamblang beserta hikmahnya.

Menurut penulis, kitab Ihya seharusnya menjadi rujukan kalangan santri dan nonsantri, dan perlu dibaca dan ditelaah ulang, karena ia mampu memadukan antara amalan zahir-batin dan fikih-tasawuf. Karena, tidak asing jika pesantren-pesantren di Jawa dan Madura pada bulan Ramadan mentradisikan kajian kitab Ihya sebagai bekal diterimanya puasa dan amaliah lainnya.

Secara makna dari sisi bahasa, ramadan berarti “membakar.” Makna konotatifnya berarti bisa membakar nafsu syahwat, membakar semangat, dan lainnya. Ulama memang berbeda pendapat perihal maknanya. Namun, intinya bulan ini menjadi pengobar semangat para muslim sedunia dalam meraih rahmat Allah.

Nabi menyambut Ramadan dengan sebutan “Syahrun Mubarakun.” Bahkan, di saat detik-detik akhir bulan Sya’ban, Salman al-Farisi menceritakan tentang sabda Nabi, “Rasulullah SAW memberikan khutbah kepada kami pada detik-detik akhir bulan Sya’ban. Sabda Beliau, wahai manusia, bulan yang mulia dan penuh berkah datang menaungi kalian. Suatu bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebh baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah menetapkan puasa di dalamnya sebagai kewajiban dan qiyamullail di dalamnya sebagai kesunahan. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan baik di dalamnya, dia bagaikan orang yang melakukan suatu kewajiban di bulan lain. Barang siapa melakukan suatu kewajiban pada bulan ini, maka dia sama dengan oang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.(HR. Ibnu Khuzaimah)

Baca juga:   Misteri 1002 Bait “Alfiyah” Ibnu Malik

Tradisi Ramadan

Geliat kaum muslimin di setiap daerah berbeda dalam menyikapi kedatangan tamu agung ini. Misalnya, di Madura terkenal istilah “tampaan” (hari pertama berpuasa Ramadan). Sebenarnya, tradisi tampaan tujuannya untuk menjalin sebuah kebersamaan antara satu keluarga dengan tetangganya. Untuk meraih nilai plus di bulan Ramadan ini, biasanya setiap rumah menanak nasi atau jajanan serta perihal lainnya berkaitan dengan kuliner khas Madura, dengan saling berbagi antara satu keluarga dan keluarga lainnya.

Maka dari sinilah timbul sebuah pertanyaan, apakah tradisi semacam ini mewakili rasa gembira atas kedatangan bulan suci Ramadan? Atau hanya menjadi tren belaka? Pertanyaan tersebut membuat penulis terus mencari referensi perihal tradisi tersebut.

Mengulik pertanyaan tersebut, penulis sepakat dengan pelestarian tradisi ini. Karena, dalam kehidupan di era digital ini, kebersamaan semakin terkikis, kapan lagi kalau tidak menyambut bulan Ramadan. Dan alhamdulillah, sampai saat ini tradisi ini masih melekat di masyarakat Madura dan sekitarnya. Tidak hanya itu, pondok pesantren pun meliburkan para santrinya pada bulan Ramadan sebagai bentuk apresiasi akan kedatangan bulan yang penuh berkat ini.

Melihat berbagai tradisi hidup di masyarakat, penulis menganalogikan Ramadan sebagai “madrasah rohani”, karena di dalamnya ada amalan puasa, bahkan pahala bernilai ganda. Misalnya, amalan sunah berpahala wajib, wajib tujuh kali lipat di luar bulan Ramadan. Selain itu, bulan Ramadan sebagai wahana penggemblengan jiwa-raga, bahkan seseorang dengan berpuasa di bulan Ramadhan bertambah sehat, sesuai dengan sabda Nabi, “Shumu tasihhu,” berpuasalah kamu, maka kamu sehat. Dari segi zahir, Ramadan mampu menyehatkan tubuh. Dari sisi batin, puasa mampu menenangkan jiwa.

Baca juga:   Zakat Fitrah dan Makna Esetorisnya

Ramadan juga disebut sebagai ajang uji keimanan, imanan wa ihtisaban, sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa yang gembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka ia dijamin masuk surga.” Kalau melihat sepintas makna hadis tersebut, insyaallah semua umat muslim punya harapan besar  masuk surga-Nya.

Penggemblengan Rohani

Tidak bisa dimungkiri lagi, Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim-mukmin seluruh dunia, karena melalui bulan menjadi ajang pembenahan rohani menuju manusia sempurna, bahkan bermunculan banyak karya ulama salaf di saat bulan Ramadan.

Sekitar tahun 2000-an, di saat penulis masih mondok di Pesantren Annuqayah, teringat dengan dawuh Kiai Ahmad Basyir ketika mengaji kitab tasawuf Kifayatul Atqiya. Katanya, “Mon sampean tabuen kenyang nafsunya bekal lapar, mon sampean tabuen lapar nafsonah bekal kenyang” (Jika perut kamu kenyang, maka nafsunya akan lapar. Jika perutnya kamu lapar, maka nafsunya akan kenyang). Pernyataan ini sampai detik ini tetap terekam dalam memori penulis.

Artinya, di saat kita mengekang makanan yang berlebihan, maka nafsu tidak akan liar. Ketika nafsu tidak liar, maka ketenangan akan didapat. Saatnya di bulan Ramadhan ini, kita merenungi kembali perkataan ulama-ulama pendahulu sebagai ajang pembenahan jiwa. Agar senantiasa terarah kepada hal yang terbaik agar kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin.

Hal senada terdapat dalam kitab Kifayatul Atqiya. Di sana disebutkan bahwa obat hati ada lima, salah satunya dengan engosongkan perut, termasuk di dalamnya berpuasa, karena puasa termasuk amalan sir yang tidak diketahui siapa pun kecuali dirinya dengan Tuhan. Semoga bermanfaat.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan