Fenomena Komodifikasi Agama di Bulan Ramadan

1.442 kali dibaca

Bulan suci Ramadan telah tiba. Masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia pun bersuka cita untuk menyambutnya. Selain ditandai dengan terlihatnya hilal yang kemudian diputuskan melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama, datangnya bulan Ramadan juga ditandai dengan telah malang melintangnya iklan berbagai produk dengan embel-embel bulan suci Ramadan.

Di era digital ini, iklan-iklan bisa disaksikan dari berbagai platform media. Ramadan yang sesungguhnya bulan suci pun, kemudian seakan-akan dijadikan alat sebagai pelaris untuk mengais pundi-pundi rupiah. Meski dapat menjadi sarana dakwah untuk mengenalkan nilai islami, tapi kecenderungan iklan dengan embel-embel bulan suci Ramadan bukankah malah akan bisa menodai kesuciannya.

Advertisements

Dari fenomena ini terlihat, lagi-lagi agama dijadikan sebagai alat untuk mengais pundi-pundi rupiah. Selain sering dipolitisasi, agama sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai alat komoditi atau dagangan.

Baca juga:   Ribuan Santri Tasikmalaya Baru Dipulangkan

Fenomena ini dalam Sosiologi agama kontemporer dikenal istilah komodifikasi agama. Yaitu, suatu proses multidimensi atau multiwajah yang menjadikan agama, ajaran agama, tradisi keagamaan, maupun simbol-simbol agama menjadi semacam barang habis pakai yang bernilai ekonomis. Komodifikasi agama juga sering disebut sebagai komersiliasi agama.

Biasanya, mereka akan menjadikan ayat Al-Quran dan Hadis nabi yang berhubungan dengan produk-produk itu agar menjadi komoditas yang bernilai ekonomi. Atau bahkan berbagai produk-produk yang mereka tawarkan sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan teks-teks agama, tapi dihubung-hubungkan dengan ayat-ayat pernikahan yang hanya untuk meningkatkan omzet perdagangan.

Baca juga:   Yang Merawat Kehidupan

Doktrin normatif agama memang sangat ampuh untuk menghipnotis umat beragama awam. Peluang seperti itu pun tidak disia-siakan oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan-kepentingan tertentu. Agama hanya dipahami secara literal, tanpa menghiraukan substansi yang ada didalamnya. Agama hanya dijadikan bumbu penyedap rasa untuk menambah cita rasa urusan keduniawian. Yang pada akhirnya hanya akan menghilangkan tujuan utama dan kesakralan dari ajaran agama itu sendiri.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan