Potret Relasi Politik-Agama Orang Madura

836 kali dibaca

Madura merupakan daerah yang menyimpan banyak potensi sumber daya alam dan manusia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Madura mempunyai sejuta ide, joke, dan cara unik untuk mencairkan suasana maupun ketegangan, baik ketegangan individu, social, maupun politik.

Tidak heran, banyak akademisi, peneliti, bahkan antropolog yang membicarakan tentang Madura. Bagaimana relasi masyarakat Madura dengan kiai-pesantren, pola komunikasi antarsatu daerah dengan daerah lain, corak budaya serta kultur keagamaan yang fanatik dan kontruksi sosial budaya Madura, menjadi bahan kajian yang selalu menarik.

Advertisements

Abdur Rozaki, dalam buku berjudul Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial ini mencoba memotret, mengulas, dan menghadirkan Madura dari segi agama, budaya, relasi blater dengan oligarki politik, pembangunan sosial, dan perlawanan sosial orang Madura dalam melihat industrialisasi serta pembangunan di wilayah Madura.

Baca juga:   Malam, Nenek Moyang Pengetahuan

Dengan kultur agama yang kuat, masyarakat Madura diuntungkan oleh eksistensi pesantren dengan keluarga ulama, terutama Syaikhona Khollil Bangkalan, sebagai sosok ulama yang santrinya tersebar di mana-mana, bahkan menjadi pucuk pimpinan pesantren di berbagai wilayah Indonesia. Keberadaan Syaikhona Kholil sebagai ulama di Madura menjadikan sebab Madura dan Banten mempunyai titik kesamaan dalam memberikan penghormatan kepada kiai lokal.

Syaikhona Kholil menjadi ulama yang kualifikasinya sangat mumpuni dalam berbagai bidang agama. Kepakaran pada aspek keagamaan dan jaringan ulama dunia menjadi sebab bagaimana Syaikhona mendidik masyarakat sekitar dalam memahami ajaran agama, mengamalkan nilai nilai Islam, memberikan edukasi cara bermasyarakat dengan lemah-lembut, serta memberikan amaliah-amaliah untuk keberlangsungan masyarakat yang bermasalah, sehingga muncullah kecintaan kepada Syaikhona. Kecintaan ini terus dipupuk dengan hadirnya dhuriyah Syaikhona yang menjadi obor penerangan atas segala persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat Madura secara makro maupun mikro.

Baca juga:   Ketika “Singa Gurun” Diadang Pandemi

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Kuntowijoyo memberikan istilah dengan Collective Sentiment, yaitu sentimen kolektif tentang sebuah rasa, ikatan batin, dan identitas keberagaman di dalam masyarakat (hlm16).  Ketiga ikatan tersebut mampu menjadi kekuatan maupun relasi kultural yang menjadi jembatan dalam mewujudkan penghormatan terhadap sosok kiai, khususnya kiai yang dianggap sebagai guru sababi (asal muasaal penyebab) Islam masuk ke Madura.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan