Poso dan Nopo-nopo Kerso

Orang Jawa selalu punya permainan khas, termasuk dalam penggunaan bahasa. Maka kita mengenal istilah kerata basa. Secara harfiah ia berarti asal-usul arti kata dalam bahasa. Tapi ia bisa juga dimaknai sebagai mengurai sebuah kata menjadi ungkapan yang sesuai dengan makna yang dikandung kata tersebut.

Ia juga sering disebut jarwa ndesek atau penjabaran singkat atas makna sebuah kata atau frasa. Atau pemberian makna terhadap kata atau frasa dilihat berdasar suku katanya. Kerata basa bisa dihadapi dengan sangat serius karena hasilnya mewujud dalam penyingkapan makna yang filosofis. Sekaligus, ia bisa diposisikan sebagai “permainan merangkai kata” —dari situlah muncul istilah othak-athik gathuk (menghubung-hubungkan sesuatu agar cocok) yang menjadi “gaya Jawa”.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sekadar beberapa contoh, kata “guru” yang dianggap akronim dari “digugu dan ditiru” adalah salah satu buah dari othak-athik gathuk kerata basa ini. Dan benar, guru memang diposisikan sebagai orang yang harus digugu (dipercaya) dan ditiru (diikuti). Atau “sopir” yang di-jarwa menjadi yen ngaso mampir (jika berherhenti/istirahat selalu mampir).

Baca Juga:   HTI dan Ideologi Khilafah

Sebagai permainan bahasa, kerata basa seperti ini bisa juga disebut sebagai pasemon dalam sastra Jawa. Di dalamnya bisa terkandung sindiran atau insinuasi, karikatur, kias atau alegori, parodi, satire, ejekan atau travesti, dan pelesetan atau guyonan. Karena itu, setiap produk dari kerata basa selalu nyaris tak pernah berwajah tunggal atau punya satu makna. Bisa dipastikan ia selalu bersegi banyak atau multifaset.

Baca Juga:   Pancasila: Kapan Aku Lahir…

Itu pula yang terjadi ketika poso (baca: puasa) di-jarwa menjadi nopo-nopo kerso, yang sekilas justru memiliki arti yang berlawanan. Poso yang arti harfiah dari kata dasarnya adalah puasa, tidak/menunda makan dan minum dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari, justru berarti sebaliknya ketika di-jarwa menjadi nopo-nopo kerso. Sebab, ia berubah arti menjadi “apa-apa mau” atau “doyan apa saja” alias rakus.

Tinggalkan Balasan