Pondok Lirboyo Setelah 100 Tahun…

Jawa Timur adalah gudangnya pondok pesantren besar dan terkenal. Salah satu di antaranya adalah Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pondok pesantren ini memiliki kurang lebih 28.000 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (dikutip dari medcom.id, 18 Mei 2020). Pondok Pesantren Lirboyo ini juga berumur lebih dari 100 tahun.

Lirboyo dahulu merupakan sebuah nama desa di Kediri yang terletak di barat Sungai Brantas, di Lembah Gunung Wilis, yang kemudian dijadikan nama sebuah pondok pesantren. Pada awalnya, Pondok Lirboyo hanya menggunakan metode pembelajaran bandongan dan sorogan. Dengan didirikannya Madrasah Hidayatul Mubtadiien, metode pembelajaran ditambah klasikal.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pondok pesantren ini mengasuh ribuan santri  putra dan santri putri. Letaknya berada di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Pondok Pesantren Lirboyo hampir setiap tahun mengadakan pertemuan para ulama Nusantara. Pertemuan ulama Nusantara umumnya membahas permasalahan penting masyarakat muslim di Indonesia.

Baca Juga:   Transmisi Hadits dan Penanggulangan Hoax

Sebelum ada Pondok Pesantren Lirboyo, menurut cerita dari berbagai sumber, dahulu desa Lirboyo dikenal sebagai sarang penyamun dan perampok. Kiai Sholeh, seorang dai alim yang berasal dari Desa Banjarmelati, berinisiatif untuk mensyiarkan Islam di Lirboyo. Akhirnya, Kiai Sholeh memutuskan bahwa yang dakwah di Lirboyo itu dirintis salah satu menantunnya, KH Abdul Karim.

Kiai Sholeh dan KH Abdul Karim berasal Magelang, Jawa Tengah. Kepala Desa Lirboyo memang pernah memohon kepada Kiai Sholeh agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di Desa Lirboyo. Berdasarkan pertimbangan tersebut, akhirnya KH Abdul Karim memutuskan untuk menetap di Desa Lirboyo pada 1910.

Baca Juga:   Re-thinking Feminism and Indonesian Muslims

Dengan senang hati, Kepala Desa Lirboyo mempersilakan KH Abdul Karim memulai berdakwah di Desa Lirboyo. Hal tersebut karena pemikiran Kiai Sholeh sejalan dengan harapan Kepala Desa Lirboyo. Kiai Sholeh berharap, dengan menetapnya KH Abdul Karim di Lirboyo, syiar agama Islam lebih luas dikenal masyarakat khususnya di Desa Lirboyo. Dengan hal tersebut, diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman tenteram.

Tinggalkan Balasan