Pohon Buah Kenangan

Buah ranum itu seranum bibirmu yang sempat kunikmati. Aku menyebutnya buah kenangan. Sebab, buah itu adalah buah dari pohon yang aku tanam bersamamu. Acapkali aku menitikkan air mata di gigitan pertama buah itu. Saat aku memakannya, satu per satu kenangan bersamamu tumbuh dalam batinku.

Entah sejak kapan buah itu tampak sangat istimewa bagiku. Aku geram apabila ada orang yang menyinggung buah itu adalah buah biasa yang sering dijumpai. Biasanya, aku akan meracau hingga kalap, bilamana ada orang yang menjelek-jelekkan buah itu. Seolah-olah aku akan melindungi buah itu, sebagai pengganti aku yang tak becus melindungimu.

Advertisements
Cak Tarno

Tak sembarang orang boleh memetik buah-buah dari pohon itu. Hanya aku dan putri kita yang boleh memetik dan memakannya. Pernah suatu ketika, ada beberapa anak kecil memiliki niatan untuk mencuri buah-buah itu di pekarangan rumah kita. Saat mereka mulai beraksi, melempar batu ke ke arah buah-buah itu, atau bersikeras memanjat pohonnya, aku datang dengan raut wajah seram dan geram. Aku membentak anak-anak itu. Bahkan aku memukul mereka dengan sapu lidi. Mereka pun jera datang. Namun mereka mengadu pada orang tuanya.

Baca Juga:   Perlihatkan Tuhan Kepadaku!

Alhasil, beberapa orang tua mendatangi rumah kita. Mereka menghardikku dengan kata-kata panas, tapi aku tak peduli. Aku balik memarahi mereka dan menyuruh mereka agar mendidik anak-anaknya dengan benar. Mereka seperti kalah dalam halnya pembelaan, sebab anak-anak mereka memang mencoba mencuri buah kita.

Aku tak hiraukan mereka, walau mereka akan membenciku. Aku akan hidup berdua bersama putri kita, dan mereka kuanggap seperti anjing yang sekali-kali menggonggong.

Baca Juga:   Islam Laku Versus Islam Identitas

Di kursi panjang bawah pohon yang mengademkan, aku dan putri kita duduk menikmati angin sepoi siang hari. Buah kupetik satu. Aku memandang buah itu sejenak. Aku seperti melihat wajahmu yang tersenyum simpul. Gigitan pertama, aku kembali mengenang. Ingatanku tentangmu sontak bergentayangan di dalam kepalaku.

Sebegitu bodohkah aku? Yang mempertaruhkanmu ke orang lain. Andai waktu bisa kuulang seperti memutar jarum jam di dinding, mungkin aku takkan terhanyut dalam penyesalan ini. Aku takkan mencaci-maki diriku sendiri. Dan putri kita takkan selalu bertanya, di mana mamanya berada.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan