Pesantren dan “The Next Gus Dur”

1,172 kali dibaca

Diakui atau tidak, sejak awal, pesantren sudah menjadi pusat pembelajaran. Tidak hanya hari ini pesantren yang menjelma euforia di kalangan masyarakat. Ia menjadi promotor keilmuan jauh sebelum sekolah-sekolah (baik swasta atau negeri) lahir.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kiai Said Aqil Siradj dalam bukunya Berkah Islam Indonesia, pesantren sudah ada sejak era Kapitayan. Kelahirannya bahkan sebelum agama-agama besar di Indonesia (seperti Hindu, Budha, dan Islam) ada.

Advertisements

Setelah agama-agama besar itu sudah datang, maka terjadi relasi antara pesantren dengan agama-agama tersebut. Sehingga, di setiap agama, pesantren memiliki karakter masing-masing. Namun, semangat keilmuannya masih tetap, yaitu memberikan muatan ilmu ikhwal kehidupan manusia, baik dari aspek ekonomi, politik, maupun agama.

Di sini anggapan masyarakat kebanyakan bahwa pesantren berasal dari Islam terbantahkan. Sebab, sebelum Islam masuk ke Indonesia, pesantren sudah ada. Namun, sejak kedatangannya (Islam), keduanya mengalami pembaruan dan penyesuaian.

Pada era Wali Songo, kemudian pesantren mengalami transformasi yang kita kenal saat ini, pesantren yang bernapaskan keilmuan dan keislaman. Di era tersebut, pesantren bukan hanya sebagai media penyebar agama, namun untuk mengajarkan keilmuan secara umum.

Buktinya, pada tahun 1900, sekolah yang diperkenalkan oleh kolonial —dengan pendidikan Baratnya— tidak mengenalkan agama. Namun pesantren tetap mengintegrasikan keduanya.

Ini juga membuktikan bahwa pesantren sebenarnya tidak mengajarkan dan mengenal dikotomi keilmuan. Alih-alih, mengintegrasikan keilmuan-keilmuan itu.

Nah, sementara, di satu sisi, masyarakat kita kerap terkepung dalam bayangan radikalisme. Krisis toleransi dan kemanusiaan yang semakin kronis. Kemajemukan rupanya tidak lagi dianggap sebagai keniscayaan. Sehingga, indikasinya menjalar pada hal-hal yang fatal, seperti caci maki, terorisme, dan krisis kemanusiaan lainnya. Maka, sangat perlu, masyarakat melindungi diri dari amukan demikian.

Lantas, menyikapi hal demikian, apakah pesantren memiliki peran? Tentu, pesantren dengan sistem keilmuan tradisionalnya sangat berperan. Eksistensinya bisa menjadi benteng dari serangan tersebut.

Sikap tolong-menolong, prioritas adab, solidaritas yang menjadi ciri khasnya (pesantren) bisa memberi pemahaman pluralisme terhadap santri. Selain itu juga memberi kesadaran bahwa kemajemukan adalah hal yang patut diamini.

Genealogi Pluralisme Gus Dur

Kemajemukan kerap menumbuhkan polemik. Sebagaimana dijelaskan di depan, krisis humanisme yang terjadi akhir-akhir ini adalah bukti bahwa keragaman Indonesia tidak selalu direspons dengan baik.

Indonesia sebagai salah satu negara besar di dunia pastinya menyimpan keragaman yang kompleks. Dilihat dari aspek budaya, bahasa, suku, agama, dan ras yang bermacam-macam. Maka dari realitas ini, masyarakat Indonesia perlu melihatnya dengan peka. Namun, saat ini diskursus mengenai pluralisme yang masih ironi adalah dalam hal agama.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, salah satu tokoh Nahdhatul Ulama (NU) sekaligus tokoh bangsa yang paling getol  mempromosikan pluralisme. Sebagai salah seorang ulama yang dikenal dengan kematangan pluralismenya, ia sudah membuktikan bahwa perbedaan tidak perlu disikapi secara gaduh. Bahkan, mempermasalahkan pluralitas adalah hal yang sia-sia. Gus Dur menjadi tokoh yang paling giat menyuarakan pluralisme, tidak hanya di Nusantara, melainkan ke seantero dunia.

Gus Dur adalah salah satu tokoh yang kerap menampilkan sisi humoris. Namun, jangan salah, kehumorisannya tampak elegan diwarnai kekayaan intelektual yang dimilikinya. Mendengar nama Gus Dur, mungkin spontan kita selalu teringat dengan pernyataan-pernyataannya yang selalu nyeleneh (baca: lucu). Namun, justru pemikiran-pemikirannya selalu segar dan menjadi acuan, termasuk dalam hal pluralisme.

Dalam dakwahnya, Gus Dur selalu menekankan terjaminnya hak-hak kemanusiaan pada setiap personal, tanpa melihat background yang dimiliki. Kedamaian adalah karakter di setiap penyampaiannya, sebagaimana saat ini teraktualisasi dan dipraktikkan oleh kiai-kiai NU pada umumnya.

Menilik pada sebuah tulisannya —sebagaimana dijelaskan Kiai Said Aqil Siradj— latar belakang Gus Dur yang kokoh membumikan pluralisme adalah tradisi kesantriannya. Lahir di keluarga pesantren dan tumbuh di lingkungan pesantren barangkali sebab utama nilai pluralisme sangat tinggi.

Sistem nilai pesantren, bagi Gus Dur, adalah sistem yang selama ini dijunjung oleh umat Islam. Bagaimana tidak? Pesantren saat ini menjadi salah satu peradaban keilmuan, tatakrama/moral, dan semacamnya. Selain mendalami disiplin keilmuan, pesantren juga menawarkan pendidikan karakter. Sesederhana apa pun itu, seperti membalikkan sandal kiai, adalah karakteristik yang mungkin hanya dimiliki pesantren.

Di sisi yang berbeda, kepluralistikan (beragam) santri adalah salah satu alasannya. Di pesantren, kita akan menemukan beragam santri dengan kebudayaan, bahasa, dialek, dan isi kepala yang berbeda-beda. Namun solidaritas yang diajarkan tidak membuat santri menanggapi sinis perbedaan tersebut, apalagi sampai mengangkat pedang untuk berperang.

Segala macam bentuk humanisme bisa kita jumpai di pesantren. Sehingga dengan itu, Gus Dur membentuk pluralismenya, lalu mempromosikannya.

Saat ini, euforia pendidikan pesantren memiliki eksistensi yang besar. Pesantren tidak lagi dipandang sebagai sistem yang kolot, melainkan menjadi salah satu peradaban keilmuan di Indonesia. Maka, langkah yang tepat saat ini bukan hanya sekadar menarik minat masyarakat, melainkan juga membenahi sistem pembelajaran dan ajaran. Sehingga akan lahir banyak “The Next Gus Dur” baik dari segi wawasan dan pluralismenya. Wallahu a’lam.

Multi-Page

3 Replies to “Pesantren dan “The Next Gus Dur””

Tinggalkan Balasan