Persiapan Penting Menyambut Ramadhan

495 kali dibaca

Ramadhan menjadi bulan yang kedatangannya paling dinanti-nantikan oleh kalangan umat Islam. Pasalnya bulan ini begitu menakjubkan. Terkandung curahan hujan rahmat dan keberkahan. Tidak ada amal sholeh yang nihil ganjaran, kecuali dilipatgandakan. Juga barangsiapa berpuasa atas dasar iman dan ridho, seketika itu lumuran dosa pada diri terampuni oleh-Nya. Inilah sisi fadhilah Ramadhan yang tidak dimiliki bulan lain.

Ramadhan adalah bulan agung. Ia dijuluki sebagai Sayyidus Syuhur (penghulu semua bulan). Bila datangnya tamu seperti pejabat atau tokoh negara saja segala sesuatunya dipersiapkan begitu matang. Maka kedatangan tamu agung, Ramadhan, mestinya juga disambut dengan penuh sukacita laiknya para perjabat itu. Hal demikian sangat logis. Apalagi tamu agung, Ramadhan, membawa sejuta kebaikan serta memberi hadiah lipat ganda. Sementara tamu pejabat tidak membawa apa-apa selain kewibawaan diri.

Advertisements

Meraih maqom keberkahan yang paripurna akan terasa sulit jika tidak ada persiapan dengan baik. Ini halnya seperti menginginkan nilai ujian tinggi, tapi minim persiapan belajar. Maka sudah barang tentu hasilnya fantasi belaka. Konsep ‘mempersiapkan terlebih dahulu’ mengandung nilai yang teramat penting. Tujuannya agar kegiatan yang akan dijalani tidak menjadi ‘hambar’ dan nihil nilai.

Dalam konteks ini, mempersiapkan bulan Ramadhan pun tak kalah penting. Persiapan strategis perlu dirancang sedari dini. Usaha persiapan yang tepat bakal membawanya pada pencapaian pengalaman Ramadhan terbaik. Yakni, menggapai berkah dan rahmat dari-Nya. Ada beberapa persiapan-persiapan, yang menurut saya penting, dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.

Pertama, persiapan rohani. Rohani yang tidak tertata dengan baik, ia cenderung akan merusak batin manusia, mengganggu kebahagiaan, dan merintangi pancaran keridhoan Allah Swt. Karena itu, wujud persiapan menyambut bulan Ramadhan, sebagaimana dijelaskan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah, menganjurkan umat Islam menyucikan diri dari dosa dan bertobat dari kesalahan masa lampau. Mengikis habis segala macam penyakit rohani, seperti sombong, hasad, nifaq, kikir, riya. Setelah itu, latih lagi beriman secara totalitas, yaitu patuh dan ridho terhadap perintah-Nya. Sami’na wa atho’na bukan sami’na wa ashoina.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan