Perempuan yang Takut Melahirkan

632 kali dibaca

Mengandung. Lalu melahirkan. Adalah hal paling menakutkan dalam hidup Rahma. Perempuan berwajah manis yang usianya kata orang-orang sudah telat menikah (tahun ini memasuki angka 33) itu kerap membayangkan; pasti sangat sakit bila alat vital yang hanya sekian senti itu tiba-tiba robek dan berdarah gara-gara dipaksa mengeluarkan bayi yang beratnya kisaran 2 hingga 4 kilogram. Bahkan konon ada bayi yang lahir seberat 8 hingga 9 kilogram. Gila. Tak bisa ia bayangkan betapa luar biasa sakit mengeluarkan bayi seberat itu.

“Ngilu pastinya,” gumam perempuan itu sambil meringis, sementara kedua matanya memejam ketika membayangkan kondisi perempuan yang sedang mengejan lalu mengeluarkan orok.

Advertisements

Itulah mengapa, hingga detik ini Rahma tak kunjung mengakhiri masa lajang. Ia benar-benar takut menikah. Karena usai menikah dan beberapa kali melakukan hubungan badan, biasanya ia akan mengandung lalu melahirkan. Duh, benar-benar tak bisa ia bayangkan betapa sakit saat melahirkan jabang bayi. Belum segala kerepotan mengurus bayi setiap menit bahkan detik, menjaganya agar jangan sampai menangis, menyusuinya, mencebokinya saat tiba-tiba ngompol atau buang air besar.

“Membayangkan saja bikin kepala pening,” perempuan itu bergumam sambil menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang kepala saat membayangkan betapa sangat repot mengurusi bayi dan merawatnya hingga besar.

***

Satu hal yang membuat Rahma merasa sangat beruntung. Ia dikaruniai kedua orangtua yang menerima kondisi dirinya apa adanya. Ayah dan ibu, meski tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tapi tak pernah mengekang putri bungsunya agar selekasnya menikah. Terlebih saat mengetahui alasan putrinya takut menikah karena merasa sangat tertekan dan ketakutan bila sampai hamil kemudian melahirkan.

Ya, kepada kedua orangtuanya, Rahma memang selalu terbuka. Setiap persoalan yang dihadapinya sejak kecil, selalu ia bicarakan pada ayah ibu. Acap ia ditelikung kesedihan atas persoalan yang tengah menimpanya, bahkan saat ia melakukan kesalahan, kedua orangtuanya tak pernah marah. Mereka dengan begitu sabar memotivasi, menghibur, dan mengatakan agar jangan pernah putus asa dan menyerah menghadapi kehidupan yang terjal berliku ini. Bahwa, setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya. Kita harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan