Pendidikan di Dunia Metaverse, Kemajuan atau Tipuan?

675 kali dibaca

Prediksi Metaverse sebagai dunia masa depan semakin nyata. Beberapa instansi tanah air, seperti Bandara Internasional Bali Utara dan Telkom University, mulai merapat ke dunia artifisial ini. Bahkan, Wali Kota Makassar Ramdhan Dani Pomanto bermimpi mewujudkan Makassar menjadi kota metaverse melalui program Makaverse (Makassar Metaverse).

Mulanya, ide futuristik metaverse diinisiasi oleh platform media sosial paling masyhur di jagat Internet, yaitu Facebook. Pada Oktober 2021, CEO Facebook Mark Zuckerberg telah mengganti identitas perusahaannya dengan nama Meta Platform Inc, disingkat Meta.

Advertisements

Memang, berbagai penemuan (invention) dan inovasi (innovation) dalam beberapa dekade terakhir telah mewarnai kehidupan umat manusia dengan segala rupa. Giddens dan Harvey dalam buku Nilai Keindonesiaan (Daoeod Yoesoef dkk: 2017) mengungkapkan, revolusi di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi membawa distansiasi ruang waktu (time-space distanciation) sekaligus pemadatan ruang waktu (time-space compression) yang merobohkan batas-batas ruang dan waktu konvensional. Metaverse adalah salah satu manifestasi dari revolusi teknologi tersebut.

Dalam kaitan ini, pengetahuan kita terkait metaverse baru sebatas imajinasi. Nalar kita belum bisa mendeskripsikan wujud metaverse secara utuh. Hal ini lantaran dunia virtual yang menjadi proyek akbar masa depan ini belum nyata di depan mata.

Sesungguhnya, istilah metaverse pertama kali digunakan oleh Neal Stephenson dalam novelnya yang berjudul Snow Crash yang terbit pada 1992. Novel tersebut menjelaskan bahwa manusia dapat hidup di dunia virtual.

Jadi, secara sederhana metaverse bisa didefinisikan sebagai kehidupan dunia virtual yang disajikan dalam bentuk tiga dimensi setelah pengembangan dari Internet yang selama ini hanya menampilkan dua dimensi. Metaverse adalah replika dari kehidupan nyata. Kolaborasi antara teknologi virtual reality dengan augmented reality.

Pendidikan di Metaverse

Di ruang metaverse, avatar yang merupakan jelmaan dari diri kita bebas beraktivitas mulai dari berbelanja, bermain, jalan-jalan, rapat, dan lain-lain. Hanya menunggu waktu segala aspek kehidupan manusia akan beralih ke metaverse, tak terkecuali pendidikan. Lantas, bagaimana konsep pendidikan di metaverse?

Kelak, ketika metaverse benar-benar terwujud, maka dunia pendidikan dipaksa untuk beradaptasi. Kegiatan belajar mengajar dapat diimplementasikan dari rumah masing-masing. Guru dan siswa tak lagi berada dalam satu ruang kelas. Mereka tersambung di dunia digital dengan menggunakan perangkat virtual reality (VR) yang kemudian dapat berinteraksi di dunia virtual.

Kala itu juga gedung sekolah digantikan dengan gedung sekolah virtual. Bangunan sekolah yang nyata sekadar formalitas dan penunjang administrasi. Akhirnya, sekolah yang identik dengan keramaian para siswa tiba-tiba berubah sunyi. Kehidupan dunia pendidikan berpindah ke ruang maya dengan tampilan yang lebih mengesankan.

Sistem pembelajaran di metaverse juga akan berubah ke arah lebih fleksibel. Improvisasi materi pelajaran semakin mudah direalisasikan. Ketika siswa belajar tentang materi sejarah, maka metaverse akan menyajikan replika sejarah di depan mata para siswa dengan tampilan tiga dimensi yang memukau. Begitupun dengan materi pelajaran lain, akan mudah diakses melalui fitur metaverse dengan segala kecanggihannya.

Di metaverse, peran siswa tidak lagi pasif, sebagai penonton, tetapi bertindak lebih aktif sebagai subjek dengan replika avatar yang telah diciptakan. Para siswa bisa merasakan kehidupan artifisial di dunia meteverse baik dari indra suara, pendengaran, dan sentuhan. Peserta didik benar-benar bisa masuk ke tatanan dunia baru paling canggih abad ini.

Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

Pertanyaan kunci, seberapa efektifkah kegiatan pembelajaran di metaverse? Apakah dapat menyentuh ranah koginitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik yang menjadi indikator kesuksesan pendidikan?.

Dalam aspek kognitif, metaverse dapat menjadi media yang sangat efektif memberikan pengetahuan dan informasi kepada siswa. Penyajian materi yang unik menjadikan peserta didik lebih mudah mencerna informasi dari pada sekadar metode konvensional yang hanya berpusat pada guru (teacher sentries). Terobosan ini tentu akan memberikan pengalaman baru bagi peserta didik.

Namun, di ranah afektif (sikap), pendidikan di metaverse akan berjalan kurang efektif. Penanaman moral kepada generasi muda tidak dibentuk secara instan, apalagi melalui dunia buatan. Salah satu cara paling efektif penanaman sikap kepada peserta didik adalah keteladanan. Murid menyaksikan langsung nilai moral (moral velue) yang dilakukan oleh guru dan orang-orang sekitar. Pengamatan secara langsung ini akan memberikan efek berarti kepada peserata didik untuk dipraktikkan. Sedangkan implementasi pendidikan di metaverse telah mereduksi kehidupan sosial secara nyata yang mengakibatkan peserta didik tidak memiliki panutan.

Dalam aspek psikomotorik, penerapan pendidikan di metaverse akan menghadapi kendala. Keterampilan anak muncul ketika mereka benar-benar mendemonstrasikan skill-nya secara nyata, bukan secara virtual. Misalnya, ketika peserta didik mahir membuat karya seni di dunia virtual, bukan berarti anak menguasai keterampilan karya seni di dunia nyata. Dua dunia ini memiliki kutub ruang yang tidak sama, dan tentu memiliki efek yang berbeda.

Kemajuan atau Tipuan?

Selain itu, dampak lain dari penerapan pendidikan di metaverse adalah aspek kesehatan dan aspek sosial. Penggunaan alat penutup mata secara dominan akan mengakibatkan kesehatan mata terganggu. Daya gerak siswa juga semakin sempit lantaran hanya fokus pada layar. Interaksi sosial secara nyata antara siswa dan lingkup sekitar semakin tereduksi. Kondisi tersebut akan mudah melahirkan generasi-generasi lemah, egois, dan individualistis. Jika demikian, akankah kemunculan metaverse merupakan kemajuan atau hanya tipuan?

Sebagaimana yang diceritakan Yuval Noah Harari dalam Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (2017) terkait revolusi pertanian yang merupakan tipuan terbesar dalam sejarah manusia. Yuval menegaskan bahwa revolusi pertanian telah memperbesar jumlah total makanan, namun tanpa mereka sadari makanan itu bukan berarti bergizi, justru berdampak pada ledakan populasi dan kaum elite yang manja. Ditambah pola kerja petani yang dituntut lebih keras dari pada kehidupan sebelumnya. Akankah tipuan semacam ini akan terulang dalam balutan revolusi teknologi?

Maka dari itu, metaverse hanyalah dunia artifisial. Dalam kondisi apapun barang tiruan tidak bisa disejajarkan dengan barang asli. Dunia pendidikan tetap mengutamakan hal yang esensi, yaitu pertemuan-pertemuan. Namun demikian, kecanggihan teknologi tidak lantas membuat dunia pendidikan alergi, tapi tetap mengamini.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan