Parabel Sebatang Bambu

94 kali dibaca

Setelah sekian lama terombang-ambing mengikuti arus sungai yang cukup deras tanpa pernah tahu bakal berakhir di mana, sebatang bambu mulai ngedumel, menyesali kelakuan orang yang telah menghanyutkannya.

Kendatipun orang tersebut tidak bermaksud membuangnya; malah sebaliknya bermaksud baik, menyedekahkannya—sebagaimana yang dikatakan orang tersebut saat hendak menghanyutkannya—, pertanyaannya kini kenapa dengan cara seperti ini? Kenapa tidak dengan cara sebagaimana biasa ia memberikan pada orang-orang yang membutuhkan bambunya? Seperti misalnya saat panitia pembangunan masjid atau tetangganya yang kurang mampu nembung membeli bambu-bambu yang tumbuh subur di pekarangan belakang rumahnya, ia memberikannya secara cuma-cuma—secukupnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kemudian tepat di saat si bambu mulai mempersoalkan bagaimana cara orang bakal menemukannya apalagi memanfaatkannya—karena boleh jadi ia bakal terus hanyut hingga ke tengah samudra, di jarak seribu dua ratus dua puluh lima meter dari situ tampak seorang mandor melaporkan pada seorang kiai yang sejak tadi turut mengawasi persiapan pengecoran lantai dua bangunan pondok pesantrennya. Ia minta persetujuan kiai itu untuk memulai saja proses pengecoran kendati pada bagian di antara tiang paling kanan masih dibutuhkan dua atau tiga potong bambu untuk penopang. Menurut si mandor, hal ini tidak apa-apa, karena rangkaian bambu-bambu itu sudah cukup kuat, sementara orang yang disuruh membeli bambu sampai kini belum kembali dan apabila tidak segera dimulai takutnya proses pengecoran tidak selesai sampai sore nanti. Setelah tampak mempertimbangkan, kiai itu menyatakan untuk menunggu sebentar lagi orang yang disuruh membeli bambu kembali.

Sementara itu, di pertengahan jarak antara si bambu dan lokasi pembangunan itu, seorang lelaki hampir-hampir putus asa. Siang mulai menggeser pagi, akan tetapi seekor ikan pun belum ada yang minat memakan umpan di kailnya. Padahal ia sengaja mendatangi tepi sungai itu sejak selepas subuh tadi dengan anggapan akan banyak ikan lapar terpancing olehnya; padahal anak-anak dan istrinya di rumah sudah barang tentu menunggu hasilnya untuk lawuh makan mereka.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan