Pandemi, Mendekatkan Diri pada Ilahi

Merebaknya virus Corona yang kemudian menjadi pandemi telah menggegerkan semua orang. Bermula dari negeri tirai bambu, virus itu terus bergerilya dan bahkan menginvasi setiap sudut hampir di seluruh dunia. Karut-marutlah tatanan kehidupan. Tak peduli sekaya apakah negeri itu, semua mengeluhkan kegelisahan. Dan setelah lama menahan khawatir, sampai juga pandemi itu menyapa Indonesia. Kini, sudah berbulan-bulan pagebluk itu menggebuk kehidupan kita. Semua mengeluh, semua mengaduh, dan virus itu tetap tak peduli; terus berlanjut mencabik tatanan ekonomi, sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Tak perlu digambarkan seperti apa keluhan yang didengungkan para tetangga, sanak saudara, atau bahkan kita sendiri. Kiranya sudah tak perlu lagi memanjakan keluhan itu. Sebaiknya kita mulai berpikir bijak bahwa Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa menyertakan maksud di dalamnya. Melalui telaah pada kitab-kitab ulama salafus salih, terdapat hikmah agung yang dibawa oleh musibah ini.

Advertisements
Cak Tarno

Sebenarnya sudah ada, kalau tidak bisa disebut banyak, tulisan atau ulasan mengenai sisi positif di balik pandemi ini. Namun, tak ada salahnya kita buka kembali nasihat-nasihat ulama terdahulu untuk semakin mendekatkan diri pada Ilahi dalam menyikapi pandemi.

Baca Juga:   Cerita Tiga Butir Padi

Bahwa salah satu dampak besar dari munculnya pandemi ini adalah kita mau tidak mau menjadi “orang yang dirumahkan”. Pergeseran pola kehidupan dari yang biasanya aktif atau mencari kehidupan di luar rumah menjadi work from home alias di rumah saja tentu saja tidak mudah. Akan tetapi perlahan, kebiasaan baru itu ternyata mulai diadaptasi menjadi sebuah kenyamanan baru. Tentu saja bagi kalangan tertentu.

Baca Juga:   Mengusut “Harta, Takhta, Wanita”

Selaras dengan instruksi pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menukil perkataan Sufyan Tsauri, “Hadza azmanus sukut, waluzumul buyut, warridho bil quut ila an tamuut”. Sekarang ini adalah zaman untuk menahan diri supaya tetap tinggal di rumah, dan rela pada rezeki yang ada sampai datangnya kematian.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan