Pandemi dan Sikap Santri

Sejauh ini pandemi masih belum jelas kapan akan berakhir. Berbagai program untuk menanggulangi wabah dan dampak sosialnya juga sudah diupayakan oleh pemegang kebijakan. Perkara maksimal atau tidak, perlu kita maklumi. Sebab, masyarakat Indonesia memang sangat beragam, multikultur, dan bermacam-macam kecenderungannya. Jadi, wajar jika di masa pandemi ini banyak yang mengeluhkan kondisi ekonomi, pun kesehatan.

Pandemi yang berkepanjangan jelas akan mendorong terjadinya perubahan yang mempengaruhi cara berpikir dan bersikap banyak orang. Perubahan yang disebabkan pandemi ini juga akan membawa dampak bagi kehidupan sosial kemasyarakatan yang pada umumnya akan bermuara pada dua hal, yaitu masalah ekonomi dan kesehatan.

Advertisements
Cak Tarno

Melihat dari rekam sejarahnya, kalangan santri dan pesantren lazimnya mampu merespons dan menjadi penopang yang konsistensi atas terjadinya perubahan-perubahan sosial yang tak diduga-duga. Apalagi, selama di dalam pondok pesantren, santri sudah biasa dididik untuk hidup mandiri. Situasi yang serba tak pasti seperti pandemi saat ini bagi santri akan dianggap wajar dan sebagai bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kemandiriannya.

Baca Juga:   SAJAK-SAJAK KEMERDEKAAN

Seperti halnya kondisi saat ini, Covid-19 memang belum diketahui kapan akan berhenti dan hilang dari peredarannya. Namun, bagi seorang santri kondisi ini adalah kondisi yang perlu dilihat dan didekati dengan beberapa pendekatan. Pertama, pendekatan kultur santri. Kedua, pendekatan budaya atau tradisi sosial yang diwariskan secara turun termurun. Ketiga, pendekatan keberagamaan atau spiritualitas.

Baca Juga:   Cara Wali Mengambil Hati

Pendekatan kultur santri dapat dipahami dengan kondisi dan penempaan-penempaan yang sudah dilalui di pesantren. Penempaan itu menjadi satu sumbangan yang luar biasa untuk perkembangan mental. Di mana mental untuk bersikap mandiri dan tidak gampang kagetan merupakan modal tersendiri bagi santri dalam menghadapi tantangan. Secara kultul, santri memiliki mental kemandirian yang dihasilkan dari penempaan-penempaan selama di pesantren itu.

Artinya, seorang santri tidak seharusnya bergantung pada siapa pun, justru turut mewarnai dan menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan dalam menghadapi ragam kondisi dan perubahan-perubahan yang terjadi.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan