Pandemi dalam Teori Subsistensi

1,494 kali dibaca

Beberapa hari terakhir, di WA saya mulai muncul pesan-pesan yang berisi ketukan hati untuk peduli. Banyak teman-teman yang mulai menulis pesan darurat dengan berbagai bahasa, misalnya: “salam mas, sudah tidak ada apa-apa di rumah, mohon bantuan S.O.S”; “paceklik pandemic, ladang konser diserang hama Covid-19, gak jadi panen, semoga segera ada subsidi”; “Lebaran tidak sampai masuk dirumah kita tahun ini, terhalang Corona, sudah perlu bantuan untuk bertahan”. Ada juga yang menulis; “Si fulan teman kita sudah beberapa hari “puasa lepas” karena di rumah sudah tidak ada apa-apa lagi”; Ada yang pakai kata-kata sindiran: “sekarang saatnya fakir miskin dan anak telantar dipelihara temannya”. Dan beberapa kalimat dengan redaksi yang beragam namun isinya sama.

Saya sendiri juga mengalami nasib yang sama dengan mereka, karena sama-sama mengais rezeki dari event kesenian dan pertunjukan. Tapi saya juga tahu, ketika beberapa teman japri ke saya, artinya mereka masih menganggap saya masih berada dalam kondisi yang lebih baik dari mereka. Atau paling tidak, mereka menganggap saya sebagai orang yang bisa menampung keluhan  mereka dan menyalurkan ke pihak lain. Syukur Alhamdulillah….

Advertisements

Saya tahu persis, teman-teman yang menulis pesan itu adalah orang-orang yang berintegritas dan memiliki marwah tinggi. Mereka tidak terbiasa meminta dan membebani pihak lain. Mereka sangat tahan menerima berbagai terpaan hidup dan bertahan dalam kesulitan. Mereka orang-orang kreatif yang selalu memiliki jalan keluar menghadapi kesulitan melalui kreativitasnya. Jika mereka sampai mengirim pesan seperti itu, berarti kondisinya memang sudah benar-benar SOS. Dan saya yakin mereka mengirim pesan ini juga tidak ke setiap orang. Artinya, pesan seperti ini hanya diberikan pada teman-teman dekat yang mereka percaya.

Sejak wabah pandemi Covid-19 menyebar ke Indonesia, sudah lebih sebulan teman-teman seniman, kru, dan EO berhenti beraktivitas total. Para pekerja yang hanya mengandalkan pendapatan dari pelaksanaan event benar-benar tidak ada pemasukan. Nasib mereka ini sama dengan para buruh harian lepas yang hanya mengandalkan pekerjaan secara insidental.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan