Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal

Mendengar hal itu, Nyai Rahmatun tidak langsung menerima, namun juga tidak menolak tawaran tersebut, mengingat setiap hari dan malam, masyarakat Moncek Tengah secara berbondong-bondong mengunjunginya dan keluarganya dengan membawakan makanan, pakaian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Di saat yang, masyarakat dari desanya terus membujuk Nyai Rahmatun agar kembali pulang ke desa asalnya, dan berjanji akan menjamin keselamatannya. Mereka juga menceritakan bahwa “si ulama radikal” yang mempersekusinya itu sudah berhasil mereka jebloskan ke dalam penjara.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sementara itu, rumah kediaman Nyai Rahmatun Nur di Desa Moncek Tengah dijaga ketat oleh aparat keamanan (polisi) dan masyarakat, karena dikhawatirkan akan ada pihak-pihak yang bersekongkol dengan “si ulama radikal” untuk memata-matai keadaan sekitar.

Baca Juga:   Budidaya Terung di Pesantren Salaf Hidayatul Mubtadi'in

Dan seperti yang diceritakan juga oleh Supyati, Atiyah, dan masih banyak lagi, kediaman Nyai Rahmatun itu dipenuhi dengan makanan pokok; seperti gula, beras, kopi, minyak, rokok, telur, kambing, ayam, pakaian, dan juga perabotan rumah tangga yang dibawa oleh masyarakat untuk diberikan kepada Nyai Rahmatun setelah pulang.

Pokoknya seru,” kata Supyati sambil tetawa sekaligus menangis, mengenang kejadian itu.

Dengan iring-iringan masyarakat Moncek Barat dan Bilapora, akhirnya Nyai Rahmatun kembali pulang ke desa asalnya itu dengan disambut suka cita oleh masyarakat setempat. Dan yang menarik, ada masyarakat yang menyambutnya dengan tabuhan hadrah dan selawat, anak-anak kecil yang menari dan para orang tua yang memasak masakan enak dan banyak untuk menyambut Nyai Rahmatun dan keluarganya itu.

Baca Juga:   Nyi Seppo, Sang Pendidik Perempuan Madura (Mengenal Nyai Siti Maryam)

Suasana hangat dan meriah sekaligus mengharukan itu mirip dengan kejadian saat kaum Ansor dari masyarakat Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw beserta kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekah.

Co locoh ngennes mun enga, (lucu sekaligus sedih kalau ingat itu),” tutup Supyati dengan logat Maduranya.

4 Replies to “Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal”

  1. Agak marenges saya membaca “ulama radikal” yang sampai tega ingin membunuh Nyai Rahmatun. Tetapi memang demikian biasanya, ketika seseorang telah mencapai derajat keimanan yang menembus “langit”, maka ujian pun semakin besar. Dan Nyai Rahmatun mampu melewati ujian dengan gemilang. Semoga Beliau dalam barokah Allah di alam keabadian. Aamiin!

Tinggalkan Balasan