Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal

Perjalanan dakwah almarhumah Nyai Rahmatun tidak selalu berjalan mulus. Ia kerap mengalami kisah pilu, berliku, dan menguras emosi. Bahkan, apa yang ia alami tak jarang mengundang kemarahan dari orang-orang yang menghormati dan menyayanginya.

Sebagai dai perempuan yang ditekuninya sejak remaja, yaitu antara tahun 1960-an sampai 2000-an awal, tidak jarang Nyai Rahmatun memperoleh perlakuan tak mengenakkan, semacam persekusi. Ada pihak-pihak atau kelompok memperlakukannya semena-mena. Ada yang mempersulit jalan dakwanya. Ada pula yang mengancam keselamatan jiwanya. Ada pula kelompok “radikalis” yang tidak menghendaki pendakwah perempuan eksis di ranah publik.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Waktu itu memang jarang sekali ada dai perempuan yang berani tampil dari panggung ke panggung, kecuali ada satu dua saja. Sehingga, Nyai Rahmatun menjadi pusat perhatian khalayak karena menjadi dai perempuan terpopular saat itu.

Baca Juga:   Pulang Mondok, Ratusan Santri Bali Dikarantina

Banyak sekali sumber-sumber yang menceritakan hal itu kepada penulis, mulai dari para orang tua kuno dan anak muda yang mendengar dari kakek nenek mereka yang mengikuti perjalanan dakwah Nyai Rahmatun.

Samirah, seorang warga desa Moncek Tengah bercerita, bahwa pada sekitar tahun 1970-an almarhumah Nyai Rahmatun, yang telah mendapat restu dari suami dan guru-gurunya untuk berdakwah di ranah publik, kerap mendapat sepucuk surat berisi cemoohan dan cacian yang tidak etis diucapkan.

Surat itu dating dari “ulama radikal” yang meminta agar Nyai Rahmatun berhenti berdakwah dan berceramah di atas panggung maupun pengajian-pengajian yang diadakan di rumah-rumah warga secara bergiliran.

Baca Juga:   Bila Kejahilan Dibalas Kebajikan

Tidak sampai di situ, Nyai Rahmatun juga seringkali menerima pesan dari “si ulama radikal” tersebut melalui orang yang sengaja diutus untuk menyampaikan larangannya itu. Sebab, menurutnya, suara perempuan tidak pantas didengarkan laki-laki karena diangggapnya sebagai aurat dan haram hukumnya. Perempuan juga dianggap tidak tahu malu jika berjalan di jalanan umum, meskipun untuk menghadiri majlis taklim maupun majlis zikir.

4 Replies to “Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal”

  1. Agak marenges saya membaca “ulama radikal” yang sampai tega ingin membunuh Nyai Rahmatun. Tetapi memang demikian biasanya, ketika seseorang telah mencapai derajat keimanan yang menembus “langit”, maka ujian pun semakin besar. Dan Nyai Rahmatun mampu melewati ujian dengan gemilang. Semoga Beliau dalam barokah Allah di alam keabadian. Aamiin!

Tinggalkan Balasan