Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal

Sungguh kami sangat sedih mendengar hal itu,” ucap Samirah suatu hari.

Namun, segala ancaman itu tidak diindahkan oleh Nyai Rahmatun demi tekadnya yang sudah bulat untuk memberdayakan kaum perempaun tempo dulu, khususnya remaja dengan ilmu pengetahuan agama, dan menanamkan serta menumbuhkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Oleh karenanya, Nyai Rahmatun tetap melalui tantangan dan rintangan tersebut dengan ikhlas. Hingga sampai pada suatu kejadian yang, menurut banyak masyarakat dan santri-santrinya, tidak pernah bisa dilupakan.

Hal mengerikan tersebut terjadi ketika “si ulama radikal” melakukan persekusi kepada almarhumah Nyai Rahmatun dengan senjata tajam. Ulama radikal ini mengadang serta memburu Nyai Rahmatun beserta kelurganya, dengan tujuan hendak menghabisi nyawanya. Nyai Rahmatun dan suaminya yang berlari menghindari hal itu sampai terjatuh dengan luka-luka bersimbah darah.

Baca Juga:   Haidar Bagir dan Tarekat Alawiyah

Saya kalau ingat itu tidak bisa berhenti nangis sampai sekarang,” kata Samirah sambil berlianang air mata.

Masyarakat yang menyaksikan langsung kejadian itu dengan mata kepala mereka, dengan sigap menyembunyikan Nyai Rahmatun dan keluarganya di suatu tempat hingga akhirnya mengungsikannya ke daerah lain, yaitu desa perbatasan antara Moncek Barat dengan Bilapora.

H Rifa’i, seorang pedagang sukses yang disegani dan terpandang di desanya, yang mati-matian membela Nyai Rahmatun, sempat menghadapi “si ulama radikal” tersebut dengan tangan kosong

Sungguh mengerikan saya melihatnya,” kata Samirah sambil menutup wajahnya. “Sampai salah satu lengannya terluka oleh senjata tajam tersebut,” lanjutnya.

Baca Juga:   Berakit-rakit ke Hulu, Menjadi Ulama Kemudian

Dengan terlukanya H Rifa’i, ternyata membuat keluarga besarnya tidak terima dan melaporkannya ke polisi. “Si ulama radikal” tersebut akhirnya mendekam di penjara untuk beberapa lama.

Selama pengungsiannya di desa lain itu, Nyai Rahmatun dan keluarganya diperlakukan secara terhormat oleh penduduk setempat. Bahkan ada yang sampai menawarkan sebuah lahan dan beberapa pohon kelapa dan jati serta alat-alat bangunan lainnya untuk dibangun sebuah rumah bagi Nyai Rahmatun beserta keluarganya sekaligus untuk pesantren.

4 Replies to “Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal”

  1. Agak marenges saya membaca “ulama radikal” yang sampai tega ingin membunuh Nyai Rahmatun. Tetapi memang demikian biasanya, ketika seseorang telah mencapai derajat keimanan yang menembus “langit”, maka ujian pun semakin besar. Dan Nyai Rahmatun mampu melewati ujian dengan gemilang. Semoga Beliau dalam barokah Allah di alam keabadian. Aamiin!

Tinggalkan Balasan