NU Merinstis Jalan Damai Dunia (1)

930 kali dibaca

Tanggal 27 Februari,  bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1442 H yang lalu, Nahdlatul Ulama (NU) baru saja merayakan hari uang tahunnya yang ke-98 versi kalender Hijriyah.  Perayaan yanag diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta tersebut dihadiri Presiden RI Joko Widodo secara virtual. Dalam sambutannya, Presiden menyatakan bahwa Puncak Harlah NU merupakan momentum memperkuat ukhuwah; baik ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathiniyah, maupun ukhuwah basyariyah. Selain itu, Presiden juga menyampaikan terima kasih kepada NU atas peran aktifnya dalam menanggulangi wabah Covid-19. Preiden juga berharap agar NU turut membantu Pemerintah mensukseskan program vaksinasi.

Selain soal kesehatan dan ekonomi, agenda penting ke depan adalah meningkatkan peran aktif  NU dalam upaya membangun perdamaian dunia melalui penyebaran paham keislaman yang moderat, toleran, dan inklusif ke seluruh pelosok dunia.

Advertisements

Dalam konteks kekinian, agenda ini penting dilakukan, bukan saja untuk meningkatkan eksistensi NU di mata dunia, tetapi juga untuk menunjukkan wajah Islam yang damai di mata dunia. Selama ini muncul asumsi dan citra negatif terhadap Islam di kalangan masyarakat Barat. Islam diasumsikan sebagai agama yang suka konflik, kekerasan, dan intoleran. Asumsi ini muncul kerena wajah dunia Islam saat ini diwarnaai dengan konflik, kekerasan, dan sikap intoleran.

Keterlibatan NU dalam menjaga perdamaiana dunia, terutama dunia Islam, sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Rijal Mumazziq dalam artikelnya di NU online edisi 1 Agustus 2017 menulis, tahun 1965 NU, melalui KH Ahmad Sjaichu, menjadi motor pelaksanaan Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) dan mengantarkan KH Wahib Wahab menjadi Sekjen Organisasi Islam Asia-Afrika. Selanjutnya, NU menyelenggarakan berbagai event internasional untuk menyuarakan perdamaian.

Di era Gus Dur, NU terlibat aktif dalam pendirian Indonesia Conferense on Religion and Peace (ICRP). Pada era KH Hasyim Muzadi, NU menginisiasi pelaksanaan International Conferense of Islamic Scholars (ICIS). Event ini dilaksanakan bekerja sama dengan Kementrian Luar Negeri dan Pengurus Cabang Istimewa NU yang ada di luar negeri. Agenda menyebarkan spirit perdamaian melalui pendekatan Islam terus dilanjutkan pada periode kepemimpinan KH Said Aqil Siradj dengan menyelenggarakan event International Summit of Moderate Islamic Leader (ISOMIL).

Semua forum yang diinisiasi, digerakkan, dan diselenggarakan NU selalu melibatkan para pemimpin, ulama, dan tokoh agama dari berbagai aliran paham keislaman. Semua dihimpun oleh NU untuk diajak bersamaa-sama mewujudkan perdamaian dunia dan menegakkan keadilan.

Selain menyelenggarakan event konferensi, para pemimpin NU juga aktif  melakukan lobi-lobi dan negosiasi dengan para tokoh Islam dan pemimpin dunia untuk membangun perdamaian. Gus Dur melakukan lobi kepada para pemimpin Yahudi hingga terlibat dalam Yayasan Simon Perez. KH Hasyim Muzadi melakukan pendekatan langsung dengan para pemimpin Hamas dan Fattah serta para pemimpin Timur Tengah untuk mengajak mereka berunding. KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU sekarang, berkeliling menemui tokoh dunia untuk menyerukan pentingnya perdamaian dunia. Beliau bertemu Sekjen Rabithah Alam Islami, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa, dan bertemu dengan para ulama al-Azhar di Mesir.

Gus Yahya Staquf, Katib Syuriyah PBNU, langsung bertemu dengan pemimpin Israel dan Barat ketika menjadi pembicara dalam forum global yang diselenggarakan oleh America Jewish Committee (AJC), serta bertemu Paus Fransiskus saat menghadiri forum Inisiatiff Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) yang dilaksanakan di Vatikan. Hal yang sama juga dilakukan Gus Yaqult,  Ketua Umum Anshor, bertemu Paus Fransiskus untuk menyampaikan dukungan terhadap Dokumen Persaudaraan Manusia yang disepakti antara Paus dengan Grand Syekh al-Azhar, Ahmad Thayyep dalam event Paus Human Fraternity Meeting.

Untuk melihat peran NU dalam menjalankan agenda mewujudkan perdamaian dunia, tulisan singkat ini secara spesifik membahas upaya NU merintis jalan damai dunia dari Afganistan, karena langkah ini merupakan tindakan praktis yang dilakukan NU dalam membangun perdamaian. Bukan sekadar wacana dan imbauan, tetapi melalui gerakan dan operasi lapangan yang nyata.

Selain itu, keterlibatan NU dalam merintis perdamaian di Afganistan merupakan langkah yang strategis, karena merupakan ormas keagamaan Indonesia yang secara intens terlibat dalam perdamaian Afghanistan dengan cara-cara diplomasi kultural dan jalur non-formal. Pendekatan yang dialukan NU lebih mengedepankan pertautan rasa dan hati daripada pendekatan hukum dan politik. Ini menriak untuk dicermati.

Dalam catatan KH Abdul Mun’im DZ, salah seorang pengurus PBNU, disebutkan, bahwa langkah PBNU merintis jalan damai di Aghanistan sudah dimulai sejak tahun 2011. Rintisan ini berhasil mempertemukan para tokoh yang terlibat konflik untuk berdialog di Jakarta pada tahun 2012.

Pertemuan ini melahirkan suatu Join Statemen, yang menginpirasi berdirinya Organisasi NU di Afghanistan yang dimotori oleh Dr Abdul Ghani Kakar, seorang tokoh Islam Moderat Afghanistan. Melalui Dr Kakar dan kelompoknya inilah NU Afghanistan terus membangun jaringan dan gerakan mendekati tokoh-tokoh lain untuk mengajak mereka ke meja perundingan.

Menggunakan pola pendekatan dan pemikiran ulama NU Indonesia, para pimpinan NU Afghan berhasil mendekati dan melakukan dialog dengan kelompok Taliban, termasuk faksi yang paling keras yaitu Akunjada dan Haqqami. Kelompok ini bersedia diajak berunding dan berdialog asalkan degan moderator yang bisa dipercaya oleh mereka yaitu NU Indonesia dan NU Afghanistan.

Sinyal baik ini langusng ditangkap oleh NU Indonesia. Untuk merespons sinyal baik ini, KH As’ad Said Ali memerintahkan KH Abdul Mun’im melakukan kordinasi dengan para eksponen yang terlibat dalam upaya perdamaian Afghanistan tahun 2011. Bersama dengan Dr Ihsan Malik, pakar rekonsiliasi konflik, KH Masyuri Malik dan para penguruh PBNU lainnya merancang langkah-langkah strategik melanjutkan perundiangan dan dialog di Jakarta.

Sebelum mereka datang ke Indonesia, pihak panitia dari NU Indonesia mengirim beberapa dokumen Pancasila dan Muqaddimah UUD 45 serta Dasasila Bandung yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Afghan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan bahan pemikiran mengenai ralasi agama dan negara yang ada di Indonesia.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan