Nasib Perempuan di Bawah Taliban

Buku berjudul asli My Forbidden Face yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh perempuan asal Afghanistan ini adalah catatan pribadi perjalanan hidup penulisnya sebagai saksi sekaligus korban dalam perang atau konflik di Afghanistan.

Penulisnya bernama Latifa, sebuah nama samaran yang hingga hari ini identitasnya masih dirahasiakan demi keselamatan nyawanya dan keluarganya. Sebagai catatan pribadi, buku ini berisi tumpahan kegelisahan penulisnya akan masa depannya. Juga kekhawatirannya tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana yang orang tuanya dapatkan. Ia juga memuat jeritan lantang kaum perempuan yang menjadi korban kekerasan di tengah kecamuk perang.

Advertisements
Cak Tarno

Latifa membuka kisah dalam buku ini dengan peristiwa digantungnya Presiden Najibullah di tengah lapangan Ariana, di utara kota Kabul, oleh kelompok Taliban pada 1996. Ia yang kala itu berusia enam belas tahun ikut menyaksikan dengan matanya sendiri akan peristiwa mengenaskan tersebut.

Baca Juga:   Kiat Sukses Berwirausaha dari Kiai Gontor

Sepanjang jalan menuju tempat lapangan bersama sang ayah dan dua saudaranya, ia melihat kelompok Taliban berparade keliling kota dengan mobil pick up, dan berhenti untuk memukul orang yang berkerumun, terutama orang yang tidak berjenggot seperti “mereka” secara membabi buta. Mereka juga memecut anak anak kecil menggunakan cambuk dari sejenis kabel logam.

Kedatangan Taliban di kota tempat tinggalnya menjadikan kehidupan di sekitarnya berubah drastis dalam hitungan tahun saja. Meski sesungguhnya perang saudara sudah berlangsung lama, sejak pendudukan Uni Soviet tahun 1979, namun seperti yang dikatakan ayahnya, bahwa belum pernah seburuk saat kelompok Taliban berani menggantung Najibullah di tengah-tengah lapangan usai menolak penandatanganan sebuah dokumen di markas PBB.

Baca Juga:   Tentang Larangan Mengintervensi Tuhan

Sepanjang tahun itu, Kota Kabul seketika menjadi sunyi dan senyap. Latifa menuliskan bagaimana sesungguhnya Taliban mengubah segala hal dalam kehidupan pribadinya, anggota keluarga, pertemanan juga kondisi lingkungan sosialnya. Kakak laki-lakinya yang dahulu adalah anggota tentara Uni Soviet kini terpaksa harus tunduk kepada “mereka”. Ia pun harus mengubah penampilan dan cara berpakaian sesuai syariat versi Taliban, tentunya. Menumbuhkan janggut sesuai dengan ketentuan Taliban untuk laki-laki dan mengenakan burka bagi perempuan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan