duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Nasib Pengeluh

Apa yang tidak dikeluhkannya? Semuanya? Iya, semuanya! Hampir tidak pernah tidak, sekalipun itu dengkurannya. Dengkurannya adalah keluhan itu sendiri. Mengeluh sudah menjadi jiwanya. Mengeluh telah menjadi darah yang sepertiga mengaliri seluruh pembuluh nadinya. Mengantar keluhan, hingga ke dalam kepala hingga menancap ke dalam otak. Lalu, dibawanya keluhan-keluhan tadi ke anggota tubuh mulai dari atas, mulai dari mata. Hingga, setiap apa pun yang dilihat akan dikeluhkannya. Tidak hanya yang tampak, yang tak kasat mata pun ia keluhkan. Darah “mengeluh” mengalir ke bawah, ke jantung untuk membuat debaran-debaran ketidaklegawaan, hingga hati yang seharusnya untuk merasakan, hanya ada sensitivitas “mengeluh”. Peka sekali. Tiada detik tersia, untuk melihat, mengucap, merasa, melakukan verbalisme memuaskan hasrat keluhannya.

Baca Juga:   Gus Kautsar: Manusia Mulia karena Mengaji

Hiperbola? Terlalu mengada-ada? Mungkin. Tapi bagi Kang Nardi, melihat sahabatnya sesama buruh tebu dua puluh tahun lebih, makhluk bernama Suradi itu memang begitu lekat-eratnya dengan mengeluh.

Advertisements
Cak Tarno

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

There is 1 comment for this article

Tinggalkan Balasan