Napas Islam dalam Reog Ponorogo

1,031 kali dibaca

Beberapa hari yang lalu, viral di media sosial terkait sikap negara tetangga Malaysia yang ingin menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi Asia tenggara. Tentu ini menuai polemik yang beragam, tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia yang bersikap kontra.

Tak berhenti di situ, Malaysia juga berniat untuk mengklaim budaya Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Malaysia. Sontak, hal ini bagai kelinci yang mencari masalah dengan singa, masyarakat Indonesia langsung bereaksi keras. Di mana semua masyarakat mafhum, baik Indonesia Timur, Tengah, dan Barat, bahwa Reog adalah budaya Indonesia, khususnya Ponorogo, Jawa Timur, yang sudah melekat dan dirawat secara turun temurun. Jika nama Reog disebut pasti yang terbesit adalah daerah Ponorogo.

Advertisements

Pemerintah pun merespons wacana hangat ini. Dilansir dari laman www.kemenkopmk.go.id, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Menko PMK) Muhadjir Efendy, mengatakan, Reog Ponorogo telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Mendikbud RI pada 2013. Lebih lanjut, Menko PMK mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk turut mendukung Reog Ponorogo menjadi budaya tak benda di UNESCO.

Adapun, Kemendikburistek melalui Direktorat Perlindungan Kebudayaan telah mengajukan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Sekertariat ICH UNESCO pada 31 Maret 2022, beserta nominasi lainya, yaitu: tempe, jamu, tenun Indonesia, dan kolintang.

Akan tetapi yang paling penting, sejatinya bukanlah Malaysia yang harus kita soroti dan marahi, melainkan yang lebih penting bagaimana kita masyarakat Indonesia nguri-nguri budoyo (menghidupkan budaya) dengan semaksimal mungkin. Sehingga ketika wacana-wacana hangat klaim budaya sudah merembet ke arah geopolitik, kita tidak lugu atau sekadar mencaci di media sosial. Bahkan, jika disoal balik, kita memang benar-benar tahu dan mencintai budaya tersebut.

Termasuk, penting mencoba melihat nilai-nilai Islam atau religi dalam budaya-budaya bangsa Indonesia, salah satunya agar kita semakin mencintai dan memiliki kedekatan juga tanggung jawab moral.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan