MONOKROM HUJAN

828 kali dibaca

SEGELAS AIR

jika yang kaucari adalah surga, jelas nihil
pandang! ia tampak begitu kerdil
namun, dalam perutnya ada tangan Tuhan
yang menyelamatkanmu dari haus kematian

Advertisements

berangsur tubuhmu terkoyak dari kerontang
meski segelas kecil yang tertuang
surga-surga yang akan kaulihat begitu sederhana
setelah teguk-teguk berakhir di jiwa dengan berkah

Pamekasan, 18,12,21.

MONOKROM HUJAN

Kata pejalan yang kedinginan
Hujan adalah riuh paling tenang
Berangsur-angsur menata kata kembali
Dalam hati yang nyaris kelewat nyeri

Bulir-bulirnya bergelantungan merenggut sepi
Mengemas tangis yang hendak dilalui letih
Sedang warnanya, monokrom dalam pandangan
Tunggal: hanya berwarna kenangan

Pamekasan, 15, 12, 21.

LELAH

Kantuk memetik rindu yang kusam
Menelaah jari-jari waktu, memasang pandangan karam
Letih semakin runyam ketika mengeja jarum jam
Raga pun tertopang dan terbaring kesepian

Lalu kantukku menemukan rindunya
Di atas kata, jauh di relung hatinya
Mata mulai mengerami takdir Tuhan
Gelap, lalu memekik keheningan

Pamekasan, 15, 12, 21.

ilustrasi: berlindung dari hujan, hendra gunawan.

Tinggalkan Balasan