Meniru Uzlah Para Sufis

4.121 kali dibaca

Imam Abu Hamid al-Ghazaly akhirnya memilih mengungsi dari hiruk-pikuk Baghdad tempat ia mengajar beberapa tahun. Kitab masternya Ihya’ Ulumuddin yang sangat populer di kalangan muslim, khususnya pesantren di Indonesia, ditulis bukan saat ia mengajar di Universitas Nidhamiyah yang prestisius saat itu, melainkan sepenuhnya ketika berada di pengungsian yang jauh dari keramaian hidup sosial ekonomi dan politik. Dalam bahasa tasawuf, menyendiri untuk keperluan tertentu itu disebut uzlah.

Uzlah atau nyepi bagi al-Ghazaly memang lebih untuk konsentrasi menulis. Tetapi menulis baginya bukan hanya untuk menuangkan gagasan dan hasil analisisnya di atas kertas. Di samping pekerjaan kasat-mata itu, menulis adalah menuangkan hasil renungan terdalam baik dalam konteks metodologi keilmuan maupun tanggung jawab teologis dan kemanusiaan, sebuah tanggung jawab atas kebenaran dan keselamatan. Menulis, bagi al-Ghazaly, adalah perwujudan dari kesadaran ke-khaliq-an dan ke-makhluk-an sekaligus. Itulah yang paling pas jika menulis kita niati sebagai ibadah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ibadah, di luar ibadah sosial, memang lebih merupakan pergulatan pribadi yang memerlukan konsentrasi dalam ruang sepi. Bukankah shalat-shalat penting seperti tahajjud justru ditempatkan ketika manusia umumnya sudah terlelap di tengah malam. Hanya kepentingan syiar (performance, advokasi) saja yang kemudian memerlukan jamaah, kolektivitas, publikasi, dan hiruk-pikuk.

Para sufis jelas tidak sependapat dengan yang terakhir itu, karena dalam ibadah yang mementingkan performance dan hiruk-pikuk seperti hampir sulit terhindari berseminya riya’, sekelumit perasaan senang dan bangga “diakui” orang lain. Sebuah ibadah, bagi mereka para sufis, tidak akan berarti jika dalam melakukannya terbetik riya’.

Hiruk-pikuk kehidupan bersama memang rupanya ditakdirkan atau tergiring untuk hanya dihiasi dengan peluapan nafsu, kepentingan, dan interest-interest subyektif dalam semua aspek kehidupan. Dan justru hiasan semacam itulah yang tak mungkin mengantarkan seseorang sampai pada puncak kontemplasi, perenungan, dan penghayatan dimensi ke-khaliq-an. Dalam bahasa yang sering kita dengar, seseorang tak mungkin mengerti tentang sesuatu sebelum ia keluar dari sesuatu itu sendiri.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan