Mengudar Belenggu Nalar Muslim

444 kali dibaca

Dalam tradisi agama Islam dan agama kuno lainnya, tarik-menarik antara akal dan wahyu menjadi hal yang biasa diperdebatkan. Perdebatan sengit di antara para filsuf dan pemuka agama Islam sudah terjadi sejak dahulu, bahkan sejak pertama Islam disampaikan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Penyangkalan terhadap yang sifatnya transenden, didorong oleh pikiran yang rasional, orang juga menganggap bahwa agama sebagai sesuatu yang melemahkan akal disebabkan ajarannya yang dogmatik.

Namun, seiring berjalannya waktu, perdebatan di masa kontemporer menjadi hal yang sangat krusial. Titik permasalahannya bukan lagi tentang “kepercayaan” pada Tuhan, melainkan pada bagaimana hubungan agama Islam dengan manusia (Hablun Minallah wa Hablun Minannas). Apakah agama Islam dipahami secara substansial atau, sebaliknya, agama Islam dipahami secara tekstual. Dari situ kemudian saling berhubungan banyak permasalahan-permasalahan, baik yang terjadi di masa lalu atau di masa kontemporer.

Advertisements

Dalam buku Reopening Muslin Minds karya Mustafa Akyol, seorang jurnalis asal Turki, terekam jejak perdebatan-perdebatan itu dengan sangat baik. Mustofa Aktol berupaya membuka pikiran umat Muslim dengan buku pentingnya ini, seputar masalah-masalah kontemporer yang membutuhkan solusi. Utamanya masalah yang terjadi di masa lampau yang sudah tidak relevan lagi digunakan pada saat ini. Sehingga diperlukan akal sebagai pendukung untuk memahami ajaran Islam secara substansial dari Al-Quran maupun Hadis.

Akyol menemukan banyak sekali pemahaman umat Muslim selama ini yang membelenggu baik kepada nalar maupun kebebasan. Dengan kata lain, pemahaman tentang ajaran Islam tidak dipahami secara substansial, melainkan tekstual. Bahkan agama digunakan sebagai topeng dalam melakukan sesuatu yang dalam bumi manusia tidak pantas dilakukan. Karena itu, Akyol dalam bukunya ini berupaya untuk membuka pikiran umat Muslim agar kembali pada nalar (dengan tidak menegasikan wahyu Tuhan), mengedepankan kebebasan, dan toleransi.

Di dalam bukunya dijelaskan bahwa pemahaman umat Muslim pada sebuah ajaran tidak pernah juga terlepas dari sejarah yang membentuknya. Misalnya, pendapat yang dikemukakan oleh paham-paham atau tokoh keagamaannya. Paham Sunni, Muktazilah, Khawarij, dan paham-paham yang lain menjadi peta sejarah yang membentuk pemikiran serta politik umat Muslim saat ini. Dan perdebatan di antara paham-paham itu tidak pernah lekang di makan zaman. Karena itu, dibutuhkan paradigma yang mengutamakan pada kebebasan dan toleransi.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan