Saat baca khutbah

Mengenang Sosok Abah: KH Ghazali Ahmadi

101 kali dibaca

Saya bingung harus mengawalinya dari mana, apalagi saya harus kembali mengingat lembaran sejarah beberapa tahun ke belakang. Awalnya saya ragu bahkan tidak yakin untuk menulis. Jujur, begitu berat saya mengawali tulisan tentang KH Ghazali Ahmadi (Saya memanggilnya Abah) yang jika dituangkan dalam tulisan, belum dan bahkan tidak akan mewakili akan kemuliaan Abah. Apalagi ditulis oleh anak balepotan seperti saya yang baru belajar menulis dan masih direlung suasana gundah sedih ditikam kerrong (rindu) Abah, serta guyur isak tangis yang tak kunjung selesai.

Saya teringat dengan pepatah “wafatnya ulama adalah matinya alam”. Kita tahu istilah ini seringkali diucapkan oleh orang-orang untuk menggambarkan betapa susahnya ditinggal pergi seorang ulama. Bagaimana tidak? Ulama adalah pewaris Nabi. Melalui lisan merekalah, risalah dan dakwah Nabi Muhammad Saw tersebar hingga kini.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ketika ulama wafat, seolah alam semesta juga mati. Sebab, para ulama wafat turut membawa segenap ilmunya. Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari seorang hamba, akan tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Hingga bila ulama tidak tersisa, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka berfatwa tanpa ilmu dan sesat menyesatkan”. (HR. Bukhari Muslim).

Tubuhnya kecil, berkulit kecoklatan. Berpenampilan sederhana. Tatapan matanya tajam. Murah senyum dan humoris. Responsif sekaligus antusias bicara ketika diajak ngobrol, terutama soal bahasan ilmu-ilmu keislaman khususnya. Berpendirian teguh. Saat berjalan selalu menunduk ke bawah dengan langkah-langkah kaki yang tertata.

Itulah gambaran sosok KH Ghazali Ahmadi, menantu andalan KH Syarfuddin Abd Shomad, yang lahir di Dusun Arjasa Lao’, Desa Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura, pada 4 Mei 1945.

Bagi saya, Abah adalah seorang ulama, kiai, guru yang memainkan peranan sebagai mu’allim dan  murobbi. Abah juga merupakan seorang sosok orang tua, cendekiawan, sastrawan, tak terkecuali seorang organisatoris yang andal dan sangat langka ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih dari itu, Abah adalah “singa podium”, yang seluruh hidupnya di pergunakan untuk berdakwah. Menghabiskan waktu dengan berdakwah, di samping mengajar, adalah kekuatan sekaligus sebagai kelemahan bagi Abah. Kekuatan, karena tak semua orang bisa melakukannya. Bahkan, bagi sebagian orang, berdakwah adalah aktivitas yang membosankan, lebih-lebih menakutkan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan