duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Mengapa Perlu Berbaik Sangka

Mengapa seseorang begitu mudah menyimpulkan arah cerita dari lika-liku-lakon perjalanan manusia?

Seringkali dalam kehidupan ini kita tergoda untuk menyimpulkan atau katakanlah menilai perilaku dari teman, saudara, bahkan keluarga sendiri. Dalam situasi tertentu, entah karena kesal atau karena kepongahan diri, kita dengan mudah begitu saja memprediksi maksud atau tujuan dari orang lain. Dengan mudah pula kita mengasumsikan akan ke mana niat orang lain. Mengklaim benar-salah, baik-buruk pada liyan (the others).

Advertisements
Cak Tarno

Padahal semua ini bersumber dari sudut pandang kita; jika dari awal sudah keruh, maka selanjutnya yang akan mengalir dari diri kita pun sesuatu yang tidak jernih. Hati dan pikiran kita menentukan output kita pada orang lain. Mungkin demikian.

Baca Juga:   Haul Gus Dur di Denanyar dengan Penanggalan Hijriah

Begitulah manusia. Terkadang apa yang pernah menimpa dirinya dianggap akan sama menimpa pula pada selain dirinya. Apa yang ia rasakan akan sama pula dengan yang dirasakan selainnya. Ini semacam sudut pandang yang semi-absolute. Memaksakan garis takdir. Padahal, sungguh Tuhan adalah sang Maha. Keragaman kreasi-Nya sungguh unlimited. Tak seperti film-film yang dihasilkan oleh manusia, Tuhan sedemikian detail menciptakan lakon, dan multi-tafsir bahkan dari sepuluh arah mata angin. Allah, sungguh samudra tanpa tepi.

Baca Juga:   Kiai Rifai, Berdakwah dengan Puisi

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan