Mengapa Perlu Berbaik Sangka

Mengapa seseorang begitu mudah menyimpulkan arah cerita dari lika-liku-lakon perjalanan manusia?

Seringkali dalam kehidupan ini kita tergoda untuk menyimpulkan atau katakanlah menilai perilaku dari teman, saudara, bahkan keluarga sendiri. Dalam situasi tertentu, entah karena kesal atau karena kepongahan diri, kita dengan mudah begitu saja memprediksi maksud atau tujuan dari orang lain. Dengan mudah pula kita mengasumsikan akan ke mana niat orang lain. Mengklaim benar-salah, baik-buruk pada liyan (the others).

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Padahal semua ini bersumber dari sudut pandang kita; jika dari awal sudah keruh, maka selanjutnya yang akan mengalir dari diri kita pun sesuatu yang tidak jernih. Hati dan pikiran kita menentukan output kita pada orang lain. Mungkin demikian.

Baca Juga:   Tolstoy dan Kisah Orang-orang Suci

Begitulah manusia. Terkadang apa yang pernah menimpa dirinya dianggap akan sama menimpa pula pada selain dirinya. Apa yang ia rasakan akan sama pula dengan yang dirasakan selainnya. Ini semacam sudut pandang yang semi-absolute. Memaksakan garis takdir. Padahal, sungguh Tuhan adalah sang Maha. Keragaman kreasi-Nya sungguh unlimited. Tak seperti film-film yang dihasilkan oleh manusia, Tuhan sedemikian detail menciptakan lakon, dan multi-tafsir bahkan dari sepuluh arah mata angin. Allah, sungguh samudra tanpa tepi.

Dari sini, tak heran jika dalam ilmu kelola hati (tasawuf), para salafus shalih selalu menganjurkan kita untuk selalu memiliki hati yang baik pada Tuhan dan orang lain. Khusnudzon. Ini penting agar kita tak terjebak sesatnya asumsi yang seringkali membawa kita pada hal-hal yang kurang baik dan tentu juga mudarat bagi orang lain.

Baca Juga:   “Gus”, a Pesantren Novels by Dian Nafi

Dan memang, membersihkan hati dan pikiran tak semudah membersihkan pakaian yang terkena kotoran. Tazkiyatul qolbi membutuhkan latihan panjang dan istikamah. Dan latihan ini tidak sama seperti ketika kita hari ini mampu menjaganya berarti kita sudah lulus, tidak begitu. Menjaga kejernihan hati dan pikiran adalah ujian sepanjang masa. Inilah juga yang masuk dalam dawuh Kanjeng Nabi “jihad al-kubro”, melawan hal-hal negatif yang muncul dalam diri. Nafsu yang menyesatkan manusia.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan