Menafsir al-Quran dengan Semantik

1.042 kali dibaca

Dalam menafsirkan al-Quran, terdapat beberapa pendekatan yang ditempuh oleh seorang penafsir atau mufasir. Pendekatan diperlukan untuk mendapatkan substansi yang tepat dari makna yang dimaksud oleh suatu ayat. Salah satunya adalah pendekatan semantik.

Semantik, secara bahasa, merupakan istilah yang berasal dari Yunani. Semantik setidaknya diambil dari tiga dasar kata, yakni semantikos (memaknai), semainein (mengartikan), sema (tanda) (Benton, 1963, p. 313). Secara umum, semantik diartikan sebagai metode dalam rangka penyelidikan terhadap suatu makna. Interaksi kajiannya meliputi koneksitas antar-kata, simbol dengan konsep gagasan, dan juga alur kontinuitas dari pemakaian suatu istilah.

Advertisements

Dalam ranah penafsiran al-Quran, semantik merupakan suatu langkah metodologis untuk  mengungkap istilah, makna, dan konsep dari al-Quran. Yakni, dengan menelaah latar belakang historisitas yang terjadi, dinamika penggunaan suatu istilah, hingga konstruksi ide mengenai istilah tertentu (Azima, 2017, p. 45).

Baca juga:   Menjaga Keselamatan Diri Lebih Penting dari Ritual Ibadah

Langkah-langkah yang termuat dalam perspektif ini diharapkan akan dapat menemui visi Qurani yang tersirat (Izutsu, 1997, p. 3). Pendekatan semantik pada al-Quran mengedepankan perspektif sosio-linguistik untuk menilik dinamika konstruksi konsep pola pikir dalam suatu istilah.

Menilik rangkaian historisnya, awalnya para ulama masa klasik hingga pertengahan cenderung menggunakan corak metode penafsiran yang sama. Misalnya, maudhu’i, bil ma’tsur, bil ra’yi, sufi, ilmiy, dan sebagainya. Namun, seiring perkembangan zaman, hingga masa kontemporer, muncul pendekatan baru dalam melihat aspek pemaknaan dan penafsiran al-Quran, yakni metode kebahasaan (Azima, 2017, p. 46).

Semantik sendiri identik dengan balaghah dalam Bahasa Arab, karena sama-sama berkutat pada topik pemaknaan istilah makna murni dan makna korelasi. Akan tetapi, kekhasan semantik adalah lebih menilik aspek historis sebagai komponen penemuan maknanya (Izutsu, 1997, p. 3).

Baca juga:   LAILAATUL QADAR

Akan tetapi, nyatanya metode semantik itu sendiri sudah hadir sejak masa klasik, walaupun masih belum secara kompleks menjawab metodologi keilmuannya secara independen. Era klasik dalam hal ini, seperti yang dikategorikan oleh Profesor Harun Nasution, adalah kurun waktu masa Nabi hingga tahun 1250 M (Santosa, 2016, pp. 79–80). Beberapa inisiator dalam pola penafsiran semantik di masa awal adalah Mujahid bin Jabir (w. 104 H) dalam penafsirannya terhadap makna dasar dan relasional (Setiawan, 2005, p. 138).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan