duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Membedah Sisi Lain Tahfidz Quran Kilat

Salah Kaprah

Tapi, benarkah bisa seinstan dan semudah itu menjadi seorang penghafal al-Quran? Bagaimana sejatinya penghafalan al-Quran itu? Sering terjadi salah kaprah dalam penyebutan istilah bagi orang yang hafal al-Quran dengan gelar hafidz atau hafidzah. Padahal, gelar hafidz diperuntukkan bagi seorang ulama yang hafal 100.000 hadits, sedangkan gelar untuk orang yang hafal al-Quran adalah Hamilul Quran yang bermakna pembawa atau pemikul Quran. Sebagaimana ibu hamil, ia membawa janinnya di dalam perut ke mana pun ia pergi, dijaga terus dan tidak boleh digugurkan. Begitu juga, seorang Hamilul Quran ia berkewajiban menjaga hafalannya, mendaras juznya, dan berdosa hukumnya jika digugurkan hafalannya dengan cara tidak mendarasnya secara konsisten.

Advertisements
Cak Tarno

Hafal al-Quran adalah mampu melafalkan al-Qquran dengan lancar tanpa melihat mushaf. Ini adalah derajat terendah seorang Hamilul Quran. Tingkatan yang lebih tinggi adalah hafal Quran serta mampu mengetahui makna dari ayat-ayat al-Quran. Untuk bisa memahami maknanya, diperlukan beberapa disiplin ilmu dan juga tafsir. Adapun, tingkatan yang tertinggi dari seorang Hamilul Quran adalah mampu menghafal, memahami makna, juga mengaplikasikan pesan moral dan hukum yang ada dalam al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang disebut hafal Quran secara lafdzan, ma’nan, wa ‘amalan.

Tahfidz by Process

Baca Juga:   Relasi Islam dan Pancasila*

Penghafalan al-Quran sesungguhnya tidak bisa lepas dari proses. Bagaimana proses yang lazim digunakan di pesantren tahfidz yang sebenarnya?

 

Pertama, dan yang paling utama, sebelum seorang santri dinyatakan boleh menghafalkan harus ditashih dulu bacaannya, apakah sudah sesuai dengan tajwid, makharijul huruf, dan fasohah atau sifatul huruf hijaiyah. Di pesantren tahfidz, para santri di-sounding menjadi pembaca Quran yang adil. Adil di sini berarti memberikan hak-hak huruf untuk dibaca sesuai dengan sifatnya, dengan tidak mengurangi porsinya; alif atau hamzah dibaca alif, bukan dibaca ‘ain atau sebaliknya; sin dibaca sin bukan syin atau tsa; kho’ dibaca kho’ buka cha’ atau ha’. Satu huruf dibaca satu ketukan, dan ketika bertemu mad dibaca dengan dua ketukan, dengan kesesuaian kaidah sebagaimana Qurro’ yang bersanad.

Baca Juga:   Perempuan, Seni, dan Pesantren

Halaman: First ← Previous ... 2 3 4 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan