duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Membedah Sisi Lain Tahfidz Quran Kilat

3.394 kali dibaca

Selain itu, melantunkan bacaan al-Quran dengan lancar, tidak dengan tergesa-gesa dan tidak ditumpuk-tumpuk hurufnya, meskipun ada istilah hadr (membaca Quran dengan cepat, akan lebih afdol dengan membacanya secara tartil). Lidah yang fasih dan makhraj yang tepat adalah karena kebiasaan; terbiasa tadarrus, terbiasa membaca al-Quran, terbiasa berlatih makhraj huruf. Sebab, bergesernya pelafalan satu huruf ke huruf lain dalam satu kalimat bisa berakibat fatal pada makna dan tafsirnya; “لئن شكرتم” yang aslinya syin pada kalimat شكرتم dibaca sin سكرتم akan bergeser maknanya dari “jika kamu bersyukur” menjadi “jika kamu mabuk”. Inilah yang dulu dikatakan oleh pakar qiroah sab’ah dan penulis kitab Syarah Syifaul Jinan, KH Syaifuddin bahwa ghorib bukan untuk ayat-ayat tertentu saja, tapi untuk seluruh ayat al-Quran. “Jangan mewariskan bacaan Quran yang salah,” (KH. Dachlan Salim Zarkasyi, penemu metode qiroati).

Baca Juga:   Semakin Besar Nafsu, Semakin Dangkal Akal

Kedua, proses yang wajib dijalani adalah hafalan hingga mutqin (hafalan yang susah dilupakan). Caranya adalah dengan menyetorkan hafalan ke guru dengan talaqqi (face to face). Hafalan yang disetorkan ini memiliki batas maksimum yang sekiranya ketika menambah hafalan, hafalan sebelumnya tidak hilang. Misal, setoran halaman 1, maka pada hafalan selanjutnya, yakni halaman 2, tidak membuat santri melupakan hafalannya pada halaman 1. Di pesantren tahfidz biasanya sehari wajib setor 1 halaman. Maka akan menjadi membingungkan kalau sehari setor 1 juz, muraja’ah-nya sebelah mana?

Ketiga, mempertahankan hafalan yang telah disetorkan pada saat muraja’ah (mengulang hafalan sebelumnya). Satu juz ada 20 halaman, maka seharusnya seseorang bisa menghafal minimal 1 juz dalam 1 bulan. Lalu, ada ujian per juz hingga per lima juz sampai khatam. Santri yang masih belum lancar melantunkan satu juz bil ghoib (tanpa melihat mushaf) tidak akan diperolehkan setoran hafalan selanjutnya. Inilah nanti yang membedakan tingkat kecerdasan seseorang dalam menghafal.

Baca Juga:   RIWAYAT EMBUN, BUNGA, DAN BIBIR TUA

Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa menghafal al-Quran tidak cukup dengan kecerdasan dan nafsu cepat khatam, tapi himmah yang tinggi dalam memelihara kalam Allah. Ketiga proses tersebut harus benar-benar dijalankan jika ingin mendapatkan hafalan yang mutqin.

Laman: 1 2 3 4

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan