MEMBACA HUJAN

850 kali dibaca

EKSTASI WAKTU

rasanya bau kemarin terkuak di ketiak bunga itu
bau harum cintamu, aku begitu menyukainya
keindahan dengan rahasia memerah dan fana

Advertisements

bolehkah kucium lagi rindumu? rasanya ruhmu selalu
mengantarku ke mimpi, tiba-tiba aku jadi seperti ekstasi
semua nyawa muntah ke tanah dan menjadi waktu

rasanya bau kemarin masih tertinggal di mulutku
kukecap ludahku untuk berpuasa dalam suasana
kuulurkan kedua tangan meraihmu dalam bayangan
kau tegak di depan wajahku, kau yang tak ingin
cepat surut di darah, di nadi ingatan

aku merindukan saat-saat memasuki bau-bau cintamu
dzikir itu lagi seperti gema genta di jauh surau
seperti di atas rerumputan tidurku
ketika mendengar senandung angin dari lagumu

2019

MEMBACA HUJAN

kubaca lagi hujan yang berdzikir kepada rerumputan
tetesan-tetesan yang menyimpan tuhan
masih berkaca-kaca di hatiku, begitu terang
seperti sajak-sajak yang kugubah kemudian

bolehkah aku merindukan kesunyian
ketika mengenang huruf-huruf al qur’an
ketika ruh di badan terasa dibawa terbang
menjadi burung-burung yang bertobat
di kedalaman angin

2019

MASIH KUTULIS

masih kutulis ayat-ayatMu
juga debu hidupku dan kabut
dari nasibku yang belum jelas

masih kutulis pencarian
pada jalan-jalan berkelokan
pada angin dan guguran daun yang kelam
pada hari ketika puisi belum menjadi

masih kutulis malam hari
ketika rindu selalu menjelma kalimahMu

2019

Tinggalkan Balasan