Memaknai Kembali al-Din dan al-Islam Ala Mohsen

102 kali dibaca

Usai mengkhatamkan artikel yang ditulis oleh Mohsen Goudarzi, Worship (din), Monotheism (islam), and the Qurʾan’s Cultic Decalogue, saya menemukan satu bukti lagi bahwa Al-Qur’an memang diturunkan sebagai petunjuk (hudan) dan cahaya (nuran) bagi akal-akal yang abu-abu dan beku. Bagi saya, penelitian ini menjadi sebentuk pemantik baru untuk kajian Al-Qur’an yang cukup jenuh dan mulai melupakan hal-hal sederhana.

Mohsen Goudarzi merupakan seorang asisten profesor di Harvard Divinity School (Juli 2021). Sebelumnya, ia mengajar di Universitas Minnesota. Ia seorang ahli dalam Studi Al-Qur’an dan fokus keilmuannya mengarah pada evaluasi ulang beberapa asumsi paling mendasar yang sebelumnya dianut dalam studi Al-Qur’an.

Advertisements

Untuk mengetahui lebih dalam tulisan Mohsen ini, di abstrak, ia dengan jelas memaparkan bagaimana penelitiannya ini akan dijalankan. Selaras dengan judul yang diangkat, pertama, menelusuri makna kata din dan islam dari sumber-sumber klasik; Kedua, reinterpretasi terhadap tiga ayat (QS Ali Imran (3): 19, 85, dan QS Al-Maidah (5): 3); dan terakhir, sebagai titik fokus kajian, Mohsen akan menjelaskan tentang dekalog kultus dari ayat ke-3 surat Al-Maidah berkenaan dengan pelarangan 10 hewan tertentu.

Kerehasan Mohsen terhadap makna konsep din dan islam yang wagu, juga dialami oleh Toshihiko Izutsu 50 tahun yang lalu. Kata din sudah telanjur dimaknai dengan “agama”, padahal semestinya bukan demikian. Maka ia pun mengajukan sebuah argumen, “In this study, I argue in some detail that the qurʾanic meaning of din as “worship” reflects the ideas of “servitude” and “service,” which are often more pertinent to the signification of din and the verb dana in early Arabic literature than the notion of “obedience.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan