Melupakan Amal sebagai Kunci Ikhlas

71 kali dibaca

Syahdan, seorang pemuda tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya untuk suatu urusan. Ia pergi begitu saja tanpa mempedulikan gaji tiga bulan yang belum diberikan oleh majikannya. Beberapa tahun kemudian, saat ia kembali, si majikan memberikan gajinya dengan jumlah berlipat-lipat ganda dari gaji yang seharusnya.

Rupanya, sesaat setelah pemuda itu pergi, sang majikan menginvestasikan gaji pegawainya itu. Gaji tersebut dibelikannya ayam, lalu beranak pinak dan kemudian dibelikan lagi kambing, dan seterusnya. Keuletan dan keahlian si majikan menghasilkan keuntungan yang tak terduga, dan ia tetap bersikap amanah dengan menyerahkan kepada pemilik sahamnya. Si pemuda menerima bagian miliknya dengan bahagia.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Lalu pada suatu hari, si majikan ini dalam keadaan terdesak bersama kedua temannya. Ia terkurung di dalam gua. Batu besar memaksa mereka tidak bisa ke mana-mana. Udara senyap dan gelap gulita. Maut hampir mencabut nyawa. Ia melirihkan doa kepada Allah, lalu dengan Kemahabesarannya terbukalah pintu gua sebab perantara kebaikan mengembalikan gaji pegawainya, seutuhnya tanpa mengurangi sedikitpun jua.

Penggalan kisah ini termaktub dalam sebuah riwayat hadis panjang yang tertulis di kitab Riyadlus Salihin. Kasus ini ibarat orang mendapatkan “uang kaget”. Di saat masa-masa krisis keuangan karena tanggal tua, tiba-tiba ia menemukan uang di saku celananya, sementara ia merasa sepertinya tidak pernah memasukannya. Merasa tidak melakukan apa-apa, tapi tiba-tiba menemukan hasilnya begitu saja. Rezeki semacam ini termasuk jenis min haisu la yahtasib.

Demikian ini tamsil untuk seorang pegawai yang ikhlas. Ada atau tidak adanya gaji, ia tetap bekerja semampu yang ia bisa. Sedikit dan banyaknya yang bakalan ia terima, tidak masalah baginya. Bukan sebaliknya, malah menjadi pegawai yang buruk perilakunya, sebagaimana diskatakan oleh Fudhail bin Iyadh yang mengutip ucapan seorang ahli hikmah, “Sungguh saya malu kepada Allah Swt yang aku sembah dengan mengharap surga, sehingga saya tak layaknya seorang pegawai yang buruk sikapnya. Saya hanya akan bekerja bila diberi upah dan apabila tanpa upah maka tidak akan mengerjakannya. Padahal kecintaan-Nya dalam berkorban untukku jauh lebih besar dibandingkan pengorbanan yang tidak dilakukan oleh selain-Nya.”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan