Gumbregan

91 kali dibaca

Wak Hasyim gegas mendekat Rosyid. Ia berbisik lembut di telinga lelaki bertubuh kurus yang tengah dilanda kegamangan itu. Kata-kata yang hendak ia utarakan memang tak pantas untuk ditanyakan. Namun, Wak Hasyim sudah memikirkannya matang-matang untuk menghindari hal buruk terjadi.

“Tidak ada yang lebih gemuk, ya?”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kata-kata itu melesat juga dari bibir Wak Hasyim. Rosyid sedikit terbelalak. Namun, ia menjawab apa adanya sembari menggeleng lemah. Wak Hasyim mengalihkan pandang menerawang ke atas. Ia tampak berpikir. Sementara riuh beduk yang semestinya ditabuh nanti malam, sudah dimainkan anak-anak usai salat Asar tadi. Di tempat lain, tenda terpal sudah berdiri kokoh di pelataran masjid. Selawat merdu dilantunkan anggota remaja masjid. Batin Rosyid makin bergemuruh. Ia tidak tahu harus dengan apa menyajikan ambengan untuk nanti malam.

Seketika aroma lezat menusuk hidung Rosyid beberapa kali. Ia menelan salivanya. Lalu, ia menatap satu ekor ayam betina kurus yang tengah dikurung di bawah pohon mangga yang gabuk. Hanya seekor ayam betina dan rumah yang ditinggali itu harta kepunyaan Rosyid, setelah beberapa ekor kambing ia jual untuk keperluan makan sehari-hari.

Tidak ada barang berarti peninggalan bapaknya usai meninggal satu tahun lalu. Rosyid hidup sebatang kara. Wak Hasyim, uwaknya, juga hidup pas-pasan. Tidak tegalah ia kalau harus ikut hidup menumpang dengannya.

Biasanya usai lebaran, bapak Rosyid tidak pernah ketinggalan memeriahkan acara Gumbregan di desanya. Bapaknya seorang juragan ayam. Namun, ketika telah tiada, Rosyid justru diwarisi utang-utang bapaknya. Bahkan, hanya untuk menyembelih satu ekor ayam jantan saja sudah tidak tersisa satu pun.

Hendak tak hendak Rosyid mesti menyembelih ayam betina itu untuk Gumbregan yang akan digelar nanti malam. Gumbregan di desanya lazim digelar setiap tahun. Warga bergotong-royong membawa ambengan berupa nasi ingkung untuk selamatan di masjid. Isinya nasi kuning yang diletakkan di atas tampah dan diberi lauk pauk berupa perkedel, ikan asin, rempeyek, sambal, telur rebus, tempe goreng, urap, bihun goreng dan yang tidak boleh lupa adalah ayam ingkung. Menu terakhir itulah yang harus berupa ayam jantan dewasa berukuran besar. Sebab, kalau tidak hanya akan menjadi bisik-bisik warga sekaligus pertanda bahwa pembawa ambengan adalah orang miskin.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan