duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Marnoklopedia

Waktu cepat sekali berubah. Tidak hanya waktu, tetapi juga uang sewa tempat toko Marnoklopedia berubah nominal. Semula Rp 7 juta, kini pemilik lahan sewa menaikkan menjadi Rp 16 juta. Drastis dan lonjakan yang fantastis. Kang Marno merasa tidak mampu membayarnya. Jadi, mau tidak mau, Marnoklopedia harus bayar atau pindah!

Kang Marno teringat tiga pelanggannya dulu. Penulis amatir yang kini sudah menjadi penulis terkenal. Perwira yang dulu itu, kini sudah menjadi jenderal bintang empat. Pendebat langganannya dulu, kini pun sudah menjadi anggota dewan tingkat pusat. Kang Marno berusaha menemui ketiganya, namun diadang tembok birokrasi imitasi dibuat sendiri oleh empunya atau memang yang sudah legalitas.

Advertisements
Cak Tarno

Kang Marno berhasrat ingin menggunakan koneksinya untuk membantunya keluar dari pelik finansial. Tapi, nuraninya berkata lain. Bahwa, harmoni hubungan persahabatan meski dengan pelanggan sekalipun, harus tetap dijaga, tanpa di-embel-embeli kepentingan pribadi, apalagi bersifat materi.

Baca Juga:   Pesantren: Ruang itu Ingin Diberi Makna Baru

Marnoklopedia pun pindah. Kini, ia bukan sekadar toko buku, tapi merangkap dengan warung kopi plus wifi, tempat diskusi orang-orang “kental”, bahkan penulis, jenderal, dan pendebat tadi tidak melupakannya. Sering mengajak kolega untuk singgah dan diskusi “illegal” dengan tema-tema tertentu. Marnoklopedia berubah, menuruti nasihat “Hanya orang paling bijak dan orang paling dungu saja yang tidak pernah berubah”.

Baca Juga:   Menelisik Ladang Subur Radikalisme (2-Habis)

Penyedia buku dan ruang wawasan, untuk menjaga kewarasan akal,” demikian terpampang banner di pintu depan Marnoklopedia.

Halaman: First ← Previous ... 5 6 7 Last Show All

Comments

There is 1 comment for this article

Tinggalkan Balasan