Manuskrip Kuno Keislaman Gresik Didigitalisasi

378 kali dibaca

Memasuki Ramadan tahun ini, Pondok Pesantren Qomaruddin di Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur mulai melakukan digitalisasi terhadap naskah-naskah kuno atau manuskrip-manuskrip tua keislaman karya para ulama Gresik beberapa abad lampau. Digitalisasi dilakukan untuk melestarikan naskah-naskah yang kini tersimpan di Pondok Pesantren Qomaruddin tersebut. Pesantren Qomaruddin sendiri didirikan pada 1775 atau sudah berumur 268 tahun.

Digitalisasi tersebut dikerjakan oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) Institut Agama Islam Qomaruddin yang terselenggara melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) yang dijalankan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta. Dalam hal ini, UIN juga bekerja sama dengan Pusat Kajian Budaya Naskah (Centre for the Study of Manuscript Culture/CSMC) Universitas Hamburg di Jerman. Dan, kegiatan ini sepenuhnya didanai oleh Arcadia Foundation di Inggris.

Advertisements

Ketua PSP Institut Agama Islam Qomaruddin, Mohamad Anas, mengatakan, semua manuskrip yang akan didigitalisasi merupakan karya para ulama di Gresik yang diperkirakan ditulis sejak tahun 1740. “Ada sekitar 100 manuskrip yang akan digitalisasi di sini,” katanya.

Baca juga:   "Jangan Mabuk Ustadz Youtube dan Lupa Guru Ngaji"

Selama ini, manuskrip-manuskrip atau naskah-naskah kuno itu disimpan oleh sejumlah keturunan pendiri Pondok Pesantren Qomaruddin. Nantinya, setelah digitalisasi, seluruh manuskrip dikumpulkan jadi satu koleksi utama di lingkungan pesantren.

Dengan demikian, naskah-naskah kuno tersebut dapat diakses secara umum dan dapat dijadikan bahan studi keislaman, khususnya yang berkaitan dengan karya-karya para ulama dari Gresik dari abad-abad lampau.

Baca juga:   Dirancang, Rumah Kitab Kuning Digital

Sementara itu, menurut anggota tim ahli DREAMSEA, Agus Iswanto, kegiatan digitalisasi oleh DREAMSEA ini bertujuan melestarikan manuskrip di kawasan Asia Tenggara. Dengan digitalisasi, imbuhnya, akan terbuka akses terhadap manuskrip sehingga dapat dikaji oleh siapa saja demi kemajuan ilmiah.

Tinggalkan Balasan